MISTERI TEPIAN BATANG HARI
Kamis, pukul enam sore, matahari tenggelam di arah barat Muara Tembesi. Meninggalkan langit jingga kemerahan yang perlahan hilang di permukaan Sungai Batanghari. Aliran air yang tampak tenang menyimpan sejuta rahasia di arus bawah Sungai Batanghari yang deras. Suara aliran sungai dan heningnya suasana membuat merinding bagi siapa saja yang mengerti adat setempat.
Sebelum berangkat ke sungai, Aldo sempat singgah di warung kopi milik Pak Anto. Lelaki tua itu sejak tadi menggelengkan kepala melihat peralatan penelitian kualitas air yang ditenteng oleh pemuda pendatang tersebut.
“Mau ke mana, Nak Aldo? Ini sudah lewat magrib. Pamali turun ke Batanghari jam segini,” cegah Pak Anto cemas sambil merapikan gelas-gelas kopi di atas meja.
Aldo hanya tersenyum meremehkan, merasa pengetahuannya lebih luas daripada sekadar cerita-cerita lisan.
”Ah, Pak Anto ini percaya saja sama mitos. Saya cuma sebentar ambil sampel air terakhir di sungai tua, biar besok pagi laporan saya langsung beres dan bisa diserahkan.”
Pak Anto menghela napas panjang. Dari wajahnya tampak kekhawatiran yang mendalam.
“Bukannya menakuti, Nak. Orang tua-tua dulu berpesan jangan pernah meremehkan penguasa sungai itu. Apalagi kalau makhluk jadi-jadian seperti hantu rawe sedang kelaparan di air keruh. Konon katanya, ia suka menyeret orang yang nekat pergi di waktu magrib.“
“Sudahlah, Pak. Biar dibuktikan secara pengetahuan saya. Tidak ada itu hantu-hantuan di era modern yang canggih begini,” jawab Aldo mantap.
Aldo pun tersenyum sambil menepuk pundak Pak Hasan dan melangkah pergi meninggalkan warung menuju kegelapan malam.
Beberapa menit kemudian, Aldo sudah berada di ujung jembatan kayu tua seorang diri. Suasana di sekitar sangat sunyi, hanya terdengar suara aliran air sungai dan jangkrik. Senter di genggaman menjadi satu-satunya sumber cahaya di kegelapan malam. Kabut tipis perlahan naik dari permukaan sungai, membuat pepohonan bakau dan nipah di seberang sana.
“Hanya cerita rakyat untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak mandi malam,” gumam Aldo mencoba mengusir rasa sunyi yang mulai menakut nakutinya.
Ia berjongkok di atas titian kayu yang sudah agak rapuh, lalu bersiap memasukkan botol sampel plastik ke dalam air. Namun, baru saja tangannya mendekat ke permukaan air, suasana mendadak berubah drastis. Angin malam yang tadinya berhembus pelan mendadak berhenti total. Udara terasa begitu berat, pengap, dan dipenuhi oleh bau amis yang sangat menyengat, campuran antara lumpur sungai tua, lumut busuk, dan bangkai ikan.
Aldo menghentikan gerakannya.
“Bau apa ini? Rasanya tidak biasa,” gumam Aldo.
Tiba-tiba, permukaan sungai yang tadinya tenang mendadak bergolak hebat. Suara riakan air yang besar terbentuk melingkar hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang bangkit dari dasar sungai terdalam.
Aldo menelan ludah, tangannya yang memegang senter mulai bergetar. Ia mengarahkan cahaya senter itu ke riakan air.
Jantung Aldo seketika seperti berhenti berdetak. Napasnya mulai tidak terkontrol.
Di tengah pusaran air itu, sesosok bayangan raksasa perlahan muncul ke permukaan. Tingginya melampaui postur manusia normal dengan tubuh yang tampak transparan, tetapi memancarkan warna kehitaman yang pekat. Kepalanya botak licin, matanya menyala merah terang bagai bara api di tengah gulita malam, dan yang paling mengerikan adalah tangannya sangat panjang, hampir menyentuh air, dihiasi kuku-kuku hitam yang tajam melengkung.
Itu adalah Hantu Rawe, penguasa gaib aliran Batang Hari yang selama ini dianggapnya hanya mitos belaka.
Aldo terkejut. Kakinya seolah terpaku di atas papan kayu. Ia ingin menjerit, tetapi suaranya seakan tertahan di kerongkongan. Seluruh badannya mendadak lemas seketika.
Sosok itu tidak membuka mulutnya untuk berbicara seperti manusia, tetapi sebuah suara gemuruh yang berat, serak, dan penuh kemarahan tiba-tiba muncul langsung di dalam kepala Aldo.
“Beraninya kau mengusik ketenangan airku, manusia sombong! Datang tanpa salam, merusak sunyinya malam…”
“Ma-maaf, saya tidak sengaja! Saya cuma peneliti…” teriak Aldo sekuat-kuatnya, air matanya mulai menetes karena rasa takut yang luar biasa.
Makhluk gaib itu mendengus pelan, mengeluarkan uap dingin dari hidungnya yang pesek. Ia mengangkat tangan panjangnya secara perlahan dari dalam air, merayap menaiki tiang kayu.
Suara gesekan kayu yang patah akibat cengkraman tangan makhluk itu membuat Aldo semakin histeris. Bau amis semakin menusuk hidung, membuat kepalanya pusing.
“Janji manusia selalu manis saat dalam ketakutan, tapi darah dan nyawamu adalah bayaran yang paling pantas untuk kesombonganmu di tanah Tembesi ini,” geram suara gaib itu lagi .
Ketika tangan bercakar hitam itu hampir menyentuh ujung sepatu Aldo, kesadaran pemuda itu akhirnya kembali berkat berpikir caranya agar bertahan hidup. Ia mengeluarkan seluruh sisa tenaga di dalam tubuhnya yang gemetar hebat.
Aldo menjerit sekuat tenaga, melepaskan botol sampelnya hingga jatuh ke sungai, lalu melompat mundur dengan kasar. Tanpa memperdulikan keseimbangannya, ia berlari terbirit-birit menaiki titian kayu, menerobos semak-semak dan ranting berduri yang melukai kulitnya, tanpa berani menoleh sedikitpun ke belakang.
Ia terus berlari dalam gelap hingga kakinya menginjak jalanan tanah desa. Dengan napas yang memburu dan dada yang naik turun dengan cepat, ia mendobrak pintu warung Pak Anto.
Aldo berlari sampai terjatuh di lantai warung. Wajahnya pucat bagai mayat hidup, sementara keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya.
Pak Anto yang terkejut melihat kedatangan Aldo langsung berlari membawakan segelas air hangat.
“Astaga, Nak Aldo! Kenapa muka kamu pucat sekali? Apa yang terjadi di sungai?”
Aldo meneguk air hangat. Air matanya tumpah membasahi pipi. Ia menatap Pak Anto dengan pandangan kosong penuh ketakutan .
“Hantu… Hantu Rawe itu nyata, Pak…” bisik Aldo menyadari bahwa ada batas-batas alam yang tidak boleh dilanggar oleh akal manusia.
***
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cerah. Aldo terbangun di dalam warung Pak Anto, ia tidak ingat kejadian yang menimpa dirinya. Pak Anto datang membawa secangkir kopi hangat, tersenyum penuh arti saat melihat Aldo yang termenung.
“Bagaimana Aldo? Sungai Batanghari kita ini tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga pesan dari masalalu,” ucap Pak Anto dengan bijak.
Aldo menarik napas dalam-dalam. Misterius kini bukan lagi sekedar dongeng atau mitos belaka. Itu adalah pengingat abadi untuknya bahwa alam harus selalu dijaga, dihormati, dan dirawat hingga generasi-generasi selanjutnya.
Tentang Penulis: Miftahul jannah yang kerap dipanggil Miftah, lahir di Desa Kehidupan Baru 27 juli 2009. Ia merupakan anak tunggal, yang gemar membaca novel dan menggambar. Ia ingin mencoba mengembangkan minat dan bakat dalam dunia kesusastraan dan menjadi penulis yang baik. Saat ini Miftah duduk dibangku SMA kls 12 Ff8 di SMAN 6 Batanghari.
