MISTERI LUBUK SEPERANTU
Di desa kecil bernama Desa Pasar Terusan, terdapat suatu misteri tentang tempat yang bernama Lubuk Seperantu. Daerah Lubuk Seperantu ini merupakan lokasi persawahan para masyarakat Desa Pasar Terusan. Namun, ada misteri yang mengatakan jika seseorang menginap di desa itu, ia akan mendengar suara-suara mistis. Menurut warga desa tersebut, jika sudah memasuki waktu magrib, kita harus segera pulang ke rumah, dan jika mendengar suara memanggil kita, jangan coba-coba mencarinya atau kamu akan menghilang dan tidak bisa ditemukan.
Hari itu, seorang anak bernama Azka sedang liburan ke rumah nyainya di Desa Pasar Terusan. Nyai Azka memiliki sawah di daerah Lubuk Seperantu dan kebetulan libur sekolah Azka kali ini bertepatan dengan waktu menanam padi di sawah.
Minggu pagi, Azka pergi ke sawah bersama Nyai dan Datuk untuk menanam padi. Tidak terasa waktu sudah menjelang sore. Nyai dan Datuk mengajak Azka untuk pulang. Akan tetapi, Azka belum mau pulang karena suasana sore hari di daerah persawahan sangatlah indah. Melihat sunset dengan hamparan padi yang menghijau sangatlah jarang Azka lihat di perkotaan.
“Datuk dan Nyai pulang dulu saja, Azka masih mau melihat sunset sebentar lagi,” ucap Azka saat neneknya mengajak pulang.
“Ya sudah, tapi jangan terlalu sore, ya. Dan juga, kalo ada yang manggil kamu, kalo gak ada orangnya jangan dicari,” kata Nyai.
“Oke, Nyai. Azka sebentar aja kok ini,” jawab Azka tanpa melihat nyainya yang mulai meninggalkan sawah.
Setelah itu, Datuk dan Nyai pergi meninggalkan Azka di pondok sawah mereka dan pulang ke rumah. Setelah beberapa saat duduk di pondok sawah melihat matahari yang mulai meninggalkan singgasananya dan menyisakan rona merah di ufuk barat, Azka mulai beranjak turun dari pondok. Saat baru beberapa langkah Azka pergi berjalan, dia mendengar suara datuknya memanggil, tapi tidak melihat wujud sang Datuk.
“Azka…” suara itu kembali terdengar lagi.
Azka menolehkan kepalanya mencoba mencari sang Datuk, tapi tetap saja tidak terlihat wujud sang Datuk.
Karena mengingat pesan Nyai, Azka yang merinding karena namanya dipanggil pun berlari kencang meninggalkan area persawahan tersebut dengan jantung yang berdegup kencang.
***
Saat sampai di rumah nyainya, suara azan terdengar. Melihat cucunya penuh dengan keringat, Nyai pun bertanya.
“Azka habis berlari, ya? Sampai keringatan seperti itu?”
“Iya, Nyai. Azka mendengar seseorang memanggil Azka, tapi orangnya gak ada, Nyai,” ujar Azka merinding.
“Baguslah kamu gak mencarinya, Cu,” ucap nyainya.
“Sebenarnya kenapa kita gak boleh mencarinya, Nyai? Kalo ada yang manggil nama kita tapi gak kelihatan orangnya?” Azka melihat nyai dengan penasaran.
“Dulu, waktu Nyai kecil, ada seorang anak yang hilang di daerah persawahan itu. Semua orang di desa sibuk mencarinya ke seluruh penjuru desa tapi tidak ditemukan,” Nyai menghela napas.
“Berbagai cara orang desa lakukan. Dimulai dari pencarian menyeluruh oleh warga desa. Kemudian, polisi dan tim SAR ikut dilibatkan, tapi tidak juga ditemukan. Akhirnya, warga memilih memakai sesajen yang ditaruh di bawah pohon besar Lubuk Seperantu untuk ditukar dengan anak itu. Keesokan harinya, anak itu ditemukan terbaring di bawah pohon tempat sesajen tersebut,” cerita Nyai panjang.
“Terus si anak gimana, Nyai?” Azka penasaran.
“Diobati sama dukun sakti itu. Ketika ditanya oleh dukun sakti itu, bagaimana dia bisa berakhir di sana. Dia bilang dia mendengar suara ibunya memanggil, tapi ibunya tidak ada di sana. Jadi dia cari sampai ke dalam hutan yang berada di ujung persawahan itu. Kemudian, pandangannya gelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi,” lanjut Nyai.
“Jadi, itu sebabnya daerah persawahan di situ dinamai Lubuk Seperantu, ya, Nyai? Artinya lubuk yang ada hantunya?” tanya Azka.
“Iya. Hari sudah malam, Azka mandi sana. Terus salat magrib,” ucap nyai Azka mengakhiri obrolan mereka magrib itu.
TAMAT
Tentang Penulis: Azwajum Muthoharo adalah murid SMAN6 Batanghari yang duduk di kelas 11 F6
