PEMATANG YANG BERSUARA
Nazifa Zafira
Di pematang sawah, dua orang laki-laki berdiri saling membelakangi, masing-masing menjaga aliran air seolah-olah itu miliknya sendiri.
“Jangan dialihkan lagi ke sana!” suara itu terdengar berat.
Maryam berhenti melangkah ketika mendengar kedua laki-laki itu saling beradu mulut, kakinya seolah tertahan di tempat.
Sudah beberapa hari ini, sawah bukan lagi tempat untuk bergotong royong dan saling membantu, namun sudah menjadi tempat untuk saling menaruh curiga dan amarah. Aliran air sawah tidak pernah benar-benar meresap hingga ke dalam tanah.
Pagi itu, Maryam sedang duduk di batuan hulu sungai, ia terus menyikat pakaiannya dengan air jernih dan mengalir dengan tenang yang dapat memantulkan langit biru dan dedaunan hijau ditepiannya, menciptakan lukisan alam yang sempurna.
Sinar matahari menyapa desa Nusantara yang terdapat di wilayah Kerinci. Di sela-sela gemericik air yang mengalir, Maryam tidak sengaja mendengar beberapa suara ricuh dari seberang sungai.
“Kenapa ya sawah kita, kok enggak ada hasil panen yang terlihat?” keluh seorang ibu dengan sabun pakaian di tangannya.
“Aahh, ini gara-gara Pak Budi yang enggak mau berbagi air, dia mau sawahnya aja yang berhasil,” pangkas ibu lain di seberang sana.
Mendengar hal itu, Maryam segera merapikan pakaian yang sudah ia cuci ke dalam sebuah ember berwarna hitam, dan berlari menuju rumah neneknya.
Sesampainya di sana, ia langsung menuju ruang tengah tempat neneknya bersantai dan beristirahat.
“Nek, kenapa hasil panen di sawah warga desa gagal semua, ya? Kok bisa? Maryam jadi penasaran, deh!” tanya Maryam memulai pembicaraan.
“Itu cuma peringatan aja buat kita,” jawab sang nenek dengan santai, seolah mengelak dari pertanyaan tersebut.
Dengan rasa ingin tahu yang masih terbakar, Maryam terus mendesak agar mendapat jawaban serius dari sang nenek.
“Mungkin saja karena kita sudah lama tidak mengadakan kenduri sko. Terakhir kali itu 15 tahun lalu, saat kamu masih SD, kan?” jelas wanita paruh baya, berharap tidak ada pertanyaan lanjutan.
Merasa pertanyaannya belum benar-benar terjawab, Maryam duduk di teras rumahnya sambil memandangi langit yang sudah gelap dan menampilkan cahaya-cahaya bintang dari atas sana.
“Hubungannya kenduri sko sama sawah apa, ya?” gumam Maryam dengan telapak tangan yang menekan pelipis.
Sepanjang malam itu, Maryam terus mencari tahu melalui internet dan menemukan sebuah penjelasan yang menyebutkan bahwa dalam kenduri sko terkandung nilai demokrasi, musyawarah, gotong royong, dan hidup rukun. Maryam membaca kalimat itu berulang kali. Perlahan, bayangan beberapa hari terakhir melintas di kepalanya, warga yang saling membelakangi di sawah, aliran air yang diperebutkan, dan bisik-bisik tuduhan yang tak kunjung berhenti.
Pagi itu, Maryam bangun dengan satu pikiran yang terus berputar di kepalanya. Ia tidak ingin diam saja. Tanpa banyak pertimbangan, ia langsung keluar rumah dan melangkah menuju tempat yang pertama terlintas di pikirannya, rumah Ani.
Di depan rumah Ani, temannya sejak SD, ia ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Sebelum ia benar-benar mengetuk, Ani sudah lebih dulu membukakan pintu.
“Loh, Maryam? Kok tumben banget pagi-pagi sudah di sini?” tanya Ani kaget.
“Ayo kita ke tempat teman-teman yang lain,” potong Maryam tanpa menjawab pertanyaan itu.
Ani mengernyit, sambil mengambil sandalnya.
“Emangnya ada apa sih?” tanya Ani sambil setengah berlari kecil menyusul Maryam yang sudah lebih dulu melangkah.
“Udah, ikut aja dulu,” jawab Maryam singkat.
Mereka berdua berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Satu per satu teman lama mereka dikumpulkan, mulai dari Raka, Dini, Arul, sampai Fajar yang biasanya susah untuk diajak keluar rumah.
Mereka berkumpul di tepian sungai, tempat dulu di mana mereka sering bermain. Maryam menarik napas, meletakkan tatapannya pada wajah-wajah yang dulu akrab di pematang sawah kini terlihat canggung satu sama lain, seolah ada jarak tak kasatmata yang ikut tumbuh bersama seiring berjalannya waktu.
“Maryam, ini sebenarnya mau ngapain sih?” tanya Raka, sedikit tidak sabar.
“Eumm…aku mau ngomongin sesuatu, guys. Gimana kalo kita ngajak warga buat ngadain kenduri sko? Kalian liat kan, orang-orang pada ribut sekarang gara-gara sawah yang lagi kacau?” jelas Maryam berharap teman-temannya memahami maksudnya.
Semua terdiam. Tidak ada yang menyangkal, memahami maksud dari Maryam.
“Lah, terus hubungannya sama kenduri sko apa?” sahut Arul meminta penjelasan Maryam.
Maryam menghela napas sejenak, sebelum kembali menjelaskan.
“Kemaren aku juga bertanya begitu, tetapi setelah aku cari tahu, kenduri sko bisa meredam emosi orang-orang di lingkungan kita, kita bisa saling bergotong royong dan hidup rukun. Selain itu, tujuan kenduri sko apa coba?” ujar Maryam kembali.
“Buat mempererat tali silaturahmi warga, melestarikan warisan budaya leluhur, dan menjaga keharmonisan sosial masyarakat,” Jawab Ani santai.
Ani sedikit mengangguk, tetapi yang lain justru saling berpandangan. Beberapa detik hening, lalu terdengar tawa kecil.
“Serius, Yam? Kenduri sko? Fajar terkekeh, menahan senyum yang nyaris lepas.
“Iya, maksudnya… itu kan acara orang tua dulu. Emang masih relevan?” sahut Arul
Maryam terdiam dengan tatapan kosong, tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.
“Aku cuma mikir… mungkin kalau kita mulai dari situ, orang-orang bisa—”
“Bisa apa?” pangkas Raka dengan nada yang lebih tajam. “Tiba-tiba rukun gitu aja? Gara-gara makan bareng?”
Beberapa dari mereka kembali tertawa dengan nada yang lebih jelas.
“Yam, ini bukan masalah kecil,” tambah Dini, meskipun nadanya tidak setajam yang lain. “Orang-orang itu udah lama punya masalah. Bukan cuma soal air sawah.”
“Iya,” sambung Fajar. “Lagian, kita ini siapa? Mau ngajak warga? Emang mereka bakal dengerin kita?”
Tawa itu mungkin hanya sebentar, tapi cukup membuat Maryam terdiam. Ia ingin membalas, menjelaskan maksudnya, tapi kata-katanya seperti hilang begitu saja. Dadanya terasa penuh, entah karena kesal atau justru ragu pada dirinya sendiri.
“Udahlah, Yam,” kata Arul sambil mengangkat bahu. “Ide kamu bagus sih… tapi kayaknya terlalu maksa.”
Maryam hanya mengangguk kecil, meskipun hatinya terasa jatuh ke tempat yang dalam. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresi yang mulai berubah.
“Iya… mungkin aku yang terlalu berlebihan,” ucapnya lirih.
Percakapan itu tidak berlanjut, mereka mulai membicarakan urusan masing-masing, setelah lama tidak berjumpa, seolah pembicaraan barusan hanyalah hal sepele yang bisa dilupakan begitu saja.
Satu per satu dari mereka pun meninggalkan sungai tempat mereka berbincang, hingga pada akhirnya yang tertinggal hanya Maryam.
Suara langkah kaki yang menjauh perlahan menghilang, digantikan oleh gemericik air yang mengalir tanpa arah yang jelas. Maryam masih berdiri di tempatnya, menatap permukaan air yang bergetar pelan. Kalimat-kalimat sebelumnya kembali terngiang.
“Kita ini siapa?”
“Terlalu maksa.”
Ia menghela napas panjang, lalu duduk di batu pinggir sungai. Tangannya meraih kerikil kecil dan melemparkannya ke air, sekali, dua kali, tanpa benar-benar sadar apa yang ia lakukan.
Sore itu, Maryam pulang dengan langkah pelan. Sesampainya di rumah, ia langsung duduk di samping neneknya.
“Nek… tadi aku ngomong ke teman-teman soal kenduri sko,” ucapnya lirih. “Tapi mereka nggak setuju. Malah kayak… ngeremehin.”
Neneknya tidak langsung menjawab. Ia hanya menepuk pelan tangan Maryam.
“Kalau memang belum waktunya, jangan dipaksakan,” katanya lembut. “Nggak semua orang langsung mengerti. Kadang, kita juga perlu belajar untuk melepaskan.”
Maryam menunduk.
“Jadi… aku harus berhenti?”
Neneknya tersenyum tipis. “Untuk sekarang, iya. Lupakan dulu.”
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Maryam tetap menjalani semuanya, tapi pikirannya seperti tertinggal di hari itu.
Keesokan harinya, keributan kembali pecah di tepian sawah yang kering, tidak hanya suara ricuh yang terdengar, beberapa warga juga membawa senjata tajam sehingga membuat suasana semakin memanas. Suara teriakan warga saling bersahutan, membuat Maryam ikut mendekat dan berdiri di antara kerumunan.
“Ngalihin air seenaknya, dikira ini air nenek moyang kamu?”
“Kan air sawamu udah penuh, dasar, tamak!”
Di tengah keributan itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang.
“Apa ini gara-gara kita nggak pernah ngadain kenduri sko lagi? Jangan-jangan leluhur kita nggak senang…”
Kalimat singkat itu berhasil membuat Maryam terpaku. Ia menoleh, mencoba mencari siapa yang bicara, tapi orang-orang sudah kembali ribut.
Tak lama setelah itu, kepala desa mengumpulkan beberapa warga dan pemuda di balai desa. Maryam duduk di antara mereka, diam, masih ragu apakah ia harus bicara lagi atau tidak?
Di depan, Depati, pemangku adat yang selama ini jarang turun langsung itu memimpin musyawarah dengan suara tenang yang membuat semua masyarakat terdiam.
“Masalah ini bukan cuma soal air,” ucapnya pelan.
“Kita terlalu lama berjalan sendiri-sendiri,” lanjutnya.
“Padahal dari dulu, kita diajarkan untuk kembali duduk bersama saat keadaan mulai tidak baik.”
“Kami bukannya tidak mau rukun,” sahut salah satu warga, “tapi kondisi sekarang juga tidak memungkinkan. Panen gagal. Untuk makan saja susah, apalagi mengadakan kenduri.”
“Bagaimana jika kita mengadakan kenduri sko secara sederhana?” ujar depati kemudian, suaranya tenang namun tegas. “Bukan untuk kemewahan, tapi untuk mempertemukan kembali hati yang sudah lama terpisah dan mengingatkan kita, siapa kita sebenarnya.”
“Tenang saja, bahan bisa kita ambil dari bilik padi,” lanjutnya. “Itu memang disiapkan untuk masa sulit seperti sekarang, bukan untuk disimpan selamanya.”
Beberapa warga mulai saling berpandangan, ada yang masih ragu, tapi tidak ada yang berani menolak.
Beberapa hari kemudian, kenduri sko itu benar-benar dilaksanakan dengan sederhana. Di halaman rumah adat, warga berkumpul dalam suasana yang lebih tenang dari biasanya. Saat benda pusaka dimandikan, air limau mengalir pelan, doa-doa dilantunkan lirih.
Orang-orang mulai duduk berdampingan, berbincang pelan, tidak lagi dengan nada tinggi seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan yang begitu terlihat, tapi cukup untuk membuat semuanya terasa lebih ringan, lebih lapang.
Saat rentak kudo mulai dimainkan, langkah kaki terdengar serempak, mengisi ruang dengan semangat yang hangat. Tidak lagi canggung seperti sebelumnya.
Maryam berdiri di antara mereka, diam, memperhatikan. Ia tidak lagi sibuk mencari jawaban. Karena malam itu, ia merasa sudah mengerti, bahwa tidak semua hal harus dijelaskan dengan kata-kata. Kadang, cukup dirasakan, saat kebersamaan itu perlahan kembali hidup.
TAMAT
Tentang Penulis: Nazifa Zafira adalah murid SMAN 1 Sungai Penuh
