Membaca Naskah-Naskah Pilihan FTR 2026, Peta Awal Sebelum Pilihan Diputuskan (Bagian II)
Pusako, Keris, dan Ingatan yang Diperebutkan
Titas Suwanda
Pada bagian pertama, kita bertemu dengan naskah-naskah yang bergerak di sekitar rimba, alam, tradisi, dan perubahan masyarakat. Pada bagian kedua ini, perhatian bergeser kepada sesuatu yang lebih dekat dengan ingatan kolektif: pusaka, sejarah, tanah, warisan, dan pertanyaan tentang apa yang harus dipertahankan ketika zaman berubah.
Enam naskah yang dikupas berikutnya adalah Hati Pusako, Kepala Batu, Keris Tubanso, Keruh di Muaro, Tengok ke Hulu, Kursi Kosong, dan Menuak. Masing-masing menawarkan dunia panggung yang berbeda.
- HATI PUSAKO karya Agung Syahputra
Hati Pusako membawa kita ke sebuah kampung yang masih kuat memegang adat. Di dalamnya terdapat Pak Yusuf, seorang pesirah kampung yang keras kepala dan taat pada tradisi, serta Jalul, anak mudanya yang memiliki perilaku berlawanan. Konflik keluarga ini kemudian bertemu dengan upacara cuci pusako dan kehidupan komunal masyarakat.
Di sinilah kekuatan naskah berada: konflik personal bertemu dengan konflik adat. Pusaka bukan sekadar benda. Dalam pertunjukan, benda pusaka jangan hanya diperlakukan sebagai properti. Ia harus memiliki nilai dramatik. Ketika pusaka dibersihkan, yang sebenarnya sedang dibersihkan bukan hanya benda. Ada ingatan, identitas, hubungan dengan leluhur, dan harga diri komunitas yang ikut dipertaruhkan. Upacara cuci pusako dapat menjadi pusat visual pertunjukan.
Persiapan warga, gotong royong, bertauh, kenduri, musik, hingga peristiwa ketika warga mengalami kerasukan memberi kemungkinan bagi ensemble yang besar. Naskah bahkan menggambarkan masyarakat bekerja bersama menyiapkan cuci pusako sebelum suasana berubah ketika beberapa warga jatuh pingsan dan kerasukan.
Tokoh Jalul menarik bukan hanya karena ia “anak nakal”. Yang lebih menarik adalah pertanyaan: mengapa seorang anak yang berada di tengah masyarakat adat justru merasa tidak memiliki tempat di dalam komunitasnya sendiri? Jika pertanyaan ini dikembangkan, Jalul tidak lagi menjadi sekadar anak pembangkang. Ia dapat menjadi representasi generasi yang tidak menemukan hubungan emosional dengan tradisi yang diwariskan kepadanya.
Tantangan
Bahaya naskah ini adalah terjebak pada pola: anak muda selalu salah, adat benar, anak sadar. Terjebak pada paradigma arustama. Jika demikian, konflik menjadi terlalu mudah. Sutradara dapat mencari lapisan yang lebih rumit, mungkin tradisi memang penting, tetapi cara generasi tua memperlakukan generasi muda juga memiliki persoalan. Dengan begitu, pertunjukan tidak hanya berbicara tentang mempertahankan adat, tetapi juga tentang bagaimana adat diwariskan.
- KEPALA BATU karya Ahmad Faathir
Kepala Batu memiliki energi yang berbeda. Dunia anak muda, permainan daring, teknologi, dan tradisi lokal dipertemukan dalam satu ruang konflik. Persoalan ini sangat dekat dengan kehidupan pelajar dan remaja. Seorang anak muda dapat mengenal berbagai dunia melalui layar, tetapi belum tentu mengenal cerita yang hidup di halaman rumahnya sendiri.
Konflik yang relevan dalam naskah ini menarik bukan semata-mata karena ada game online. Pertanyaan yang lebih penting adalah, mengapa sesuatu yang berasal dari jauh bisa terasa lebih menarik daripada sesuatu yang tumbuh di sekitar kita? Pertanyaan tersebut dapat menjadi konflik identitas. Tradisi bukan hanya berhadapan dengan teknologi. Tradisi berhadapan dengan perhatian manusia modern. Apa yang menarik perhatian? Apa yang dianggap keren? Apa yang dianggap kuno? Siapa yang menentukan semua itu?
Kemungkinan visual naskah ini dapat menjadi sangat menarik jika dunia permainan tidak hanya dibicarakan. Dunia game dapat hadir melalui proyeksi layar, suara notifikasi, efek visual, perubahan cahaya, gerak tubuh, musik elektronik, atau bahkan perubahan cara aktor berbicara dan bergerak. Dunia digital dapat menjadi ruang kedua yang berhadapan dengan ruang tradisi.
Tantangan
Bahaya terbesar adalah menjadikan pertunjukan sebagai ceramah tentang “Jangan main game terlalu banyak. Lestarikan budaya.” Pesan seperti itu terlalu mudah ditebak. Potensi yang lebih menarik adalah memperlihatkan konflik yang benar-benar dialami tokoh. Apa yang ia dapatkan dari dunia digital? Apa yang tidak ia dapatkan dari lingkungannya? Apakah tradisi memang sudah menawarkan bentuk komunikasi yang dapat dimengerti generasi sekarang? Jika pertanyaan tersebut muncul, naskah akan menjadi lebih hidup.
- KERIS TUBANSO karya Asro Al Murthawi
Di antara naskah-naskah FTR 2026, Keris Tubanso memiliki energi sejarah dan legenda yang sangat kuat. Tokoh Sigindo Tiang Bungkuk berada di pusat cerita. Keris yang menyertai kelahirannya menjadi bagian dari mitologi tokoh tersebut. Naskah juga menghubungkan kisahnya dengan Kenduri Sko masyarakat Tamiai, Kerinci.
Keris tersebut bukan sekadar senjata. Ia menjadi simbol identitas dan takdir tokoh. Sejarah atau legenda? Inilah pertanyaan penting bagi sutradara. Keris Tubanso dapat dipentaskan sebagai drama sejarah yang realistis. Tetapi ia juga dapat dipentaskan sebagai teater legenda.
Jika pendekatan kedua dipilih, ruang tidak perlu dibangun seperti museum sejarah. Penjara dapat dibentuk oleh cahaya. Kerajaan dapat hadir melalui tubuh ensemble. Perjalanan waktu dapat terjadi melalui perubahan musik. Keris dapat menjadi objek yang terus-menerus muncul sebagai simbol. Dengan demikian, penonton tidak sedang melihat rekonstruksi sejarah, tetapi masuk ke dalam ingatan kolektif sebuah masyarakat.
Salah satu kemungkinan panggung yang menarik terdapat pada adegan lemang. Lemang yang dibawa kepada Tiang Bungkuk dicurigai menyimpan senjata. Ketegangan kemudian dibangun melalui tindakan membelah lemang untuk mencari keris. Adegan seperti ini sebenarnya memiliki mesin panggung yang kuat.
Tidak perlu banyak efek. Aktor yang tepat, tempo yang tepat, dan perhatian seluruh ensemble kepada satu benda sudah dapat menciptakan ketegangan. Naskah menawarkan akhir yang sangat teatrikal: bunyi seperti petir, kilatan cahaya, asap, dan hilangnya tokoh.
Tantangan
Tantangan sutradara karena dia memiliki ruang besar untuk menentukan apakah akhir tersebut akan dibuat spektakuler atau justru sederhana. Kadang-kadang semakin sedikit yang diperlihatkan, semakin besar ruang imajinasi penonton.
- KERUH DI MUARO, TENGOK KE HULU karya Yuyun DNS
Naskah ini mungkin merupakan naskah paling “berisik” secara gagasan. Di dalamnya terdapat Orang Rimba, sidang adat, kucing hitam, Besale, penyakit, media sosial, viralitas, kompetisi, bahkan berbagai lembaga dan komunitas yang masuk ke dalam konflik cerita. Tokoh Beteguh menjadi salah satu pusat persoalan. Justru karena itu, naskah ini menarik bagi kelompok yang ingin melakukan eksplorasi bentuk.
Bayangkan sebuah sidang adat tiba-tiba menjadi viral. Apa yang terjadi ketika persoalan masyarakat adat tidak lagi hanya diketahui oleh masyarakatnya sendiri, tetapi ditonton ribuan orang? Di sinilah kemungkinan dramaturgi media baru muncul. Layar dapat menjadi ruang publik. Kamera dapat menjadi saksi. Komentar media sosial dapat menjadi suara massa. Tokoh dapat berubah ketika kamera menyala.
Jika kelompok memilih naskah ini, multimedia sebaiknya menjadi bagian dari konflik. Misalnya: aktor berbicara, kamera merekam, penonton melihat gambar aktor di layar. Namun apa yang terlihat di layar berbeda dari kenyataan di panggung. Di titik itu, pertunjukan mulai bertanya: Mana yang sebenarnya nyata? Apa yang sebenarnya sedang dilihat penonton? Pertanyaan seperti ini sangat potensial untuk teater remaja.
Tantangan
Naskah ini memiliki banyak gagasan. Itulah sekaligus kekuatan dan risikonya. Jika semua persoalan dimainkan dengan bobot yang sama, pertunjukan dapat kehilangan pusat. Sutradara perlu memilih satu pertanyaan utama. Salah satu kemungkinan adalah: Apa yang terjadi ketika ritual dan kehidupan masyarakat adat dipaksa mengikuti logika konten digital? Jika pertanyaan itu menjadi pusat, berbagai persoalan lain dapat ditempatkan sebagai cabang.
- KURSI KOSONG karya Hendry Nursal
Kursi Kosong menghadirkan benda yang sangat sederhana tetapi memiliki potensi dramaturgis besar: kursi.
Dalam cerita, kursi bukan hanya tempat duduk. Ia berkaitan dengan perebutan ruang, misteri, Danau Sipin, pembangunan, dan kehadiran sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Tokoh-tokoh seperti Zastia, Iqbal, Malik, Adi, Mawan, dan lainnya bergerak dalam persoalan tersebut.
Sutradara dapat menjadikan kursi sebagai “tokoh” tanpa menjadikannya hidup secara harfiah. Siapa yang duduk? Siapa yang tidak boleh duduk? Mengapa semua orang menginginkannya? Apa yang terjadi ketika kursi kosong? Pertanyaan sederhana tersebut dapat terus diulang dengan makna yang berbeda. Kursi dapat menjadi simbol ruang yang diperebutkan.
Kursi Kosong juga menghubungkan misteri dengan cerita tentang Orang Kayo Hitam dan Danau Sipin. Ada pula persoalan pembangunan yang dapat mengganggu fungsi kawasan sebagai area resapan.
Dengan demikian, naskah sebenarnya memiliki dua lapisan: misteri dan persoalan lingkungan. Jika keduanya disatukan dengan baik, pertunjukan tidak berhenti sebagai cerita hantu.
Tantangan
Sutradara jangan menghadirkan hantu sebagai satu-satunya daya tarik. Lebih menarik adalah membuat penonton terus bertanya: Apakah yang mengganggu tokoh benar-benar makhluk gaib, atau ada sesuatu yang selama ini mereka abaikan dalam kehidupan nyata? Pertanyaan tersebut membuat kursi, danau, serta bayangan memiliki makna yang lebih luas.
- MENUAK karya Megawaty S.
Naskah Menuak karya Megawaty S. berangkat dari tradisi yang berkaitan dengan kehamilan dalam masyarakat Jambi. Tokoh Masri dan Sopiah menjadi pusat cerita. Kehamilan membawa pasangan tersebut ke dalam perbincangan mengenai tradisi, dukun beranak, pemeriksaan medis, dan pilihan antara pengetahuan tradisional dan layanan kesehatan modern. Naskah kemudian memperlihatkan pelaksanaan Menuak ketika usia kehamilan mencapai tujuh bulan.
Naskah ini memiliki kekuatan pada ruang rumah. Ruang keluarga dapat menjadi pusat pertunjukan. Kemudian ritual Menuak perlahan mengubah ruang domestik tersebut menjadi ruang komunal. Orang datang, makanan disiapkan, dukun hadir, warga berkumpul. Tradisi berlangsung. Perubahan ruang tersebut dapat menjadi bahasa visual yang menarik.
Konflik modern dan tradisional yang mengetengahkan pertentangan antara pemeriksaan medis dan dukun beranak sebenarnya memiliki potensi menjadi konflik yang lebih dalam. Jangan membuatnya hanya sebagai: tradisi salah, modern benar. Garapan akan lebih menarik jika memperlihatkan mengapa tokoh percaya kepada satu sistem pengetahuan tertentu. Apa yang membuat Sopiah merasa aman? Apa yang membuat Masri ragu? Apa yang membuat keluarga tetap mempertahankan tradisi? Dengan demikian, konflik menjadi konflik manusia, bukan sekadar debat sistem pengetahuan.
Tantangan
Sebagian informasi tentang tahapan Menuak disampaikan secara panjang melalui dialog. Sutradara dapat mengubah informasi tersebut menjadi tindakan. Biarkan ritual terjadi, bukan hanya diterangkan. Biarkan penonton melihat makanan, persiapan, pembagian peran, dan hubungan antaranggota masyarakat. Dengan begitu, tradisi menjadi pengalaman teatrikal.
Enam Naskah, Enam Cara Memandang Ingatan
Jika keenam naskah pada bagian ini dibaca bersama, terlihat bahwa “tradisi” ternyata tidak memiliki satu wajah. Hati Pusako berbicara tentang hubungan generasi dan pusaka. Kepala Batu mempertemukan tradisi dengan budaya digital. Keris Tubanso membawa kita kepada legenda dan sejarah. Keruh di Muaro, Tengok ke Hulu mempertanyakan apa yang terjadi ketika tradisi masuk ke ruang viral. Kursi Kosong mempertemukan ruang, mitos, dan perubahan lingkungan. Sementara Menuak membawa tradisi masuk ke ruang paling dekat: keluarga.
Inilah salah satu kekayaan naskah FTR 2026. Cerita lokal tidak harus selalu dipentaskan sebagai cerita masa lalu. Ia dapat berbicara tentang apa yang terjadi hari ini.
Bersambung ke Bagian III: Keluarga, Tradisi, dan Pilihan Hidup.
