Puisi Titas Suwanda
BIRU, PULANGLAH
Biru, masihkah kau ingat jalan ke rumah?
Jalan yang dulu kita lalui sebelum senja singgah ke mata.
Dan diam-diam kautitipkan laut di dada.
Aku masih menyimpan laut itu
Meski hari-hari telah menggaraminya dengan kehilangan
meski ombak tak lagi tahu
ke pantai mana harus mengalamatkan kepulangan
Pulanglah
Aku tak akan meminta langit seluruhnya
seperti langit yg kau janjikan dulu
Bawalah sedikit saja, cukup untuk mewarnai bangkuku
agar dunia terasa seperti ruang tunggu yang kelak juga akan memanggil namaku
Aku tahu kesedihanmu membutuhkan perjalanan jauh
untuk menemukan arti kesendirian yang hakiki.
Tetapi, biarkan yang tinggal meretak
agar cahaya menemukan jalan untuk masuk
Di sini, aku selalu menyebut namamu dengan gemetar.
Sembari terus belajar menerima segala yang tak akan kembali
Lihatlah, aku masih bisa tertawa
ketika melihat seekor gagak salah mengira bayangannya sendiri sebagai kawan
Datanglah, aku akan mengenalimu seperti cara sunyi menyentuh bahuku
Jika kau benar-benar pulang, jangan mengetuk pintu terlalu keras.
Hatiku sudah lama terbiasa mengira setiap suara ketukan adalah angin yang melintas di laluan.
Panggil saja namaku seperti dahulu kau memanggil laut ketika senja kehilangan mataharinya.
Aku akan menyingkap tingkap
mempersilakan malam untuk duduk sebentar di pelantar.
Jambi, 2026

