Dari Bedah Naskah Menuju Eksekusi Panggung FTR 2026
Oleh Titas Suwanda
Setelah semua naskah pilihan FTR 2026 keluar dari ruang bedah, Bagian ini memang hendak menjadi ruang untuk membaca sisi kelemahan pada masing-masing naskah pilihan FTR 2026. Kelemahan yang dimaksudkan, bukan sekadar menunjukkan sesuatu yang “masih bisa dikembangkan”, tetapi menunjukkan di mana dramaturginya tersendat dan apa akibatnya terhadap pertunjukan.
Naskah yang memiliki kelemahan bukan berarti tidak layak dipentaskan. Hal terpenting adalah kelemahan itu bisa dibaca dan diolah oleh sutradara. Setelah pembaca mengetahui kelemahan seluruh naskah, barulah sutradara masuk ke pilihan naskah mana yang memberikan ruang paling luas untuk mengatasi kelemahan itu melalui bahasa panggung. Berikut rumusan ringkas sisi lemah untuk seluruh naskah.
- GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH karya Asro Al Murthawi
Pembangunan suasana dan misteri cukup panjang, tetapi penyelesaian konflik terasa lebih cepat daripada akumulasi ketegangan sebelumnya. Risiko lain: harimau dimainkan secara literal sehingga kekuatan simbolik dan teatrikalnya justru menyempit.
- BUKIT PERAK karya Resti Anggratiani
Perubahan nada dari komedi Bono–Noglog menuju sakit, gangguan gaib, hingga kematian cukup tajam. Konflik juga cenderung bergerak sebagai rangkaian kejadian, belum sepenuhnya menjadi perjalanan perubahan karakter.
- CELEBAU karya Oky Akbar
Gagasan lingkungan cukup jelas, tetapi konflik Yanto masih terlalu linear. Yanto terdesak ekonomi, menerima eksploitasi, muncul ritual minta hujan, hujan jadi bencana. Perubahan batin Yanto belum sedalam konsekuensi ekologis yang terjadi.
- CENENGGO karya Suwandi
Konflik sebenarnya sangat kuat, tetapi beberapa bagian terlalu bergantung pada penjelasan verbal, terutama ketika persoalan kesehatan mulai diterangkan oleh tokoh tertentu. Jika informasi tersebut dikurangi, jarak fisik antartokoh bisa menjadi bahasa panggung yang jauh lebih kuat.
- HANTU AEK karya Gesang Tri Wahyudi
Potensi misterinya cukup besar, tetapi akhirnya terlalu cepat membongkar bahwa persoalan tersebut merupakan tipu daya. Unsur ritual dan kepercayaan akhirnya lebih berfungsi sebagai bahan komedi daripada menjadi persoalan yang sungguh-sungguh mengganggu tokoh.
- KAMPUNG YANG HILANG karya Titas Suwanda
Gagasan sosialnya kuat, tetapi jika seluruh konflik dimainkan melalui percakapan, pertunjukan dapat menjadi sangat verbal. Konflik Imam–Datuk Rio perlu diterjemahkan menjadi tindakan, ruang, dan situasi, bukan hanya adu argumentasi.
- HATI PUSAKO karya Agung Syahputra
Konflik generasi tua–muda cukup konvensional. Beberapa persoalan adat dijelaskan terlalu langsung. Jika trance atau ritual menjadi penyelesaian konflik, ada risiko solusi terasa terlalu mudah karena persoalan sosial sebelumnya tidak benar-benar diselesaikan oleh tokoh.
- KEPALA BATU karya Ahmad Faathir
Persoalan tradisi versus gim/teknologi cukup dekat dengan remaja, tetapi masih berisiko jatuh pada pola “anak muda harus kembali mencintai budaya”. Konfliknya perlu dibuat lebih personal dan tidak berhenti pada debat nilai.
- KERIS TUBANSO karya Asro Al Murthawi
Kekuatan sejarah dan legendanya dapat berubah menjadi drama sejarah yang penuh informasi. Jika tokoh hanya menjelaskan latar sejarah, panggung kehilangan ketegangan. Keris perlu menjadi kekuatan dramatik, bukan sekadar benda pusaka.
- KERUH DI MUARO, TENGOK KE HULU karya Yuyun DNS
Terlalu banyak isu potensial: Orang Rimba, Besale, media sosial, YouTuber, viralitas, HAM, kompetisi, dan sebagainya. Akibatnya, pusat konflik mudah pecah. Naskah membutuhkan satu pertanyaan utama agar semua unsur tersebut mengarah ke satu konflik.
- KURSI KOSONG karya Hendry Nursal
Banyak tokoh dan subplot membuat fokus dramatik mudah berpindah. Padahal kursi sebagai objek memiliki potensi simbolik yang sangat kuat. Jika kursi hanya menjadi bagian dari cerita misteri, potensi teatrikalnya tidak maksimal.
- MENUAK karya Megawaty S.
Konflik antara praktik tradisional dan pengobatan modern berisiko terlalu hitam-putih. Jika praktik tradisional hanya ditampilkan sebagai penyebab masalah sementara medis modern menjadi penyelamat, persoalannya menjadi terlalu sederhana.
- NUR karya Gavin Chandraprawira
Nur berada di pusat persoalan, tetapi kehendaknya sendiri belum selalu menjadi penggerak konflik. Banyak keputusan dibuat atau dibicarakan oleh orang lain mengenai dirinya. Akibatnya, tokoh utama berisiko menjadi objek cerita, bukan subjek.
- PATOK karya Alief Hasbunallah
Konflik kepemilikan tanah mudah melebar ke banyak arah. Jika tidak dipadatkan, struktur menjadi episodik. Padahal patok sebagai benda sebenarnya sudah menyediakan pusat konflik yang sangat jelas.
- PENURUN HUJAN karya Ayu Diah Lestary
Perdebatan tentang ilmu pengetahuan, mistik, dan agama berpotensi membuat adegan statis. Hujan kemudian turun sebagai penyelesaian dari luar diri tokoh. Akibatnya, konflik manusia belum tentu menghasilkan perubahan manusia.
- SECANTING BERAS karya Hendry Nursal
Komedi yang bersumber dari ritual dan kepercayaan memiliki risiko menjadikan tradisi sebagai objek olok-olok. Selain itu, jika humor terlalu bergantung pada dialog, kekuatan permainan tubuh dan ritme komedi justru tidak berkembang.
- SUMBUN karya Devi Hanan
Gagasan tentang generasi muda yang meremehkan tradisi cukup jelas, tetapi perubahan sikap tokoh berisiko terasa sebagai akibat dari “terbongkarnya sesuatu”, bukan pengalaman yang benar-benar mengubah cara pandangnya. Twist juga dapat mengurangi kekuatan misteri yang sebelumnya dibangun.
- TARI INAI karya Asep Supriyanto
Kekuatan utamanya justru berada pada unsur tari dan ritual, sementara konflik dramatiknya masih cenderung konvensional: kerajaan, perkawinan, dan persoalan politik. Jika dipaksakan menjadi drama dialogis, kekuatan visualnya bisa hilang.
- TARIAN MANDI SAFAR karya Citra Nur Aini
Bentuknya cenderung seperti dongeng atau narasi upacara yang diberi kerangka kerajaan. Hubungan antara dunia kerajaan dan tradisi Mandi Safar belum sepenuhnya menghasilkan konflik organik. Naskah lebih potensial jika bahasa tari, musik, dan ritual menjadi pusat.
- TEKURUNG TANGAS karya Natasya Salsabilla
Konflik psikologis Sahara lebih sering dibicarakan daripada benar-benar terjadi di atas panggung. Karena itu, pertunjukan berisiko statis. Tokoh membutuhkan tindakan yang membuat konflik batinnya tampak secara fisik.
- TEPASUNG karya Medi Saputra
Terlalu banyak beban konflik—keluarga, perpindahan, adat, pasung, dan persoalan sosial—sehingga energi melodramatiknya dapat menumpuk. Pasung juga berisiko menjadi sekadar perangkat untuk menghasilkan penderitaan jika tidak ditempatkan sebagai persoalan manusia yang lebih kompleks.
- TIMBANG TEBU karya Hendry Nursal
Pembukaan dan permainan kelompok cukup potensial, tetapi persoalan lokal dan konflik utamanya tidak sedalam energi komedinya. Pencarian pencuri berisiko menjadi rangkaian adegan lucu tanpa peningkatan taruhan yang signifikan.
- MALAM TERAKHIR karya Laila Fajrianti
Gagasan metateaternya menarik, tetapi persoalan terbesar justru ada pada banyaknya pembicaraan tentang bagaimana membuat pertunjukan. Jika proses penciptaan hanya didiskusikan, bukan dipertontonkan sebagai peristiwa, panggung akan terasa seperti ruang rapat.
- KENDURI SKO karya Fioren Edri
Naskah memiliki bahan lokal yang jelas, tetapi Kenduri Sko lebih banyak berfungsi sebagai latar bagi misteri kehilangan pusaka. Setelah pencuri ditemukan, konflik segera selesai. Pusaka belum sepenuhnya menjadi sumber konflik nilai atau perubahan karakter. Akibatnya, yang paling diingat penonton berpotensi justru “anak-anak memecahkan kasus pencurian”, bukan makna Kenduri Sko.
- MENUAK karya Diana Aini
Naskah memberikan informasi tentang tradisi, persiapan, makanan, dukun beranak, dan proses pelaksanaannya, tetapi peristiwa ritual itu sendiri belum menjadi sumber persoalan yang mengubah nasib tokoh. Naskah ini memiliki tradisi yang menarik, tetapi tradisi tersebut belum benar-benar menjadi mesin konflik.
