PUTI: DENDAM SANG PUTRI
Apakah anak perempuan adalah makhluk lemah dan layak dibunuh?
Anak perempuan yang lemah. Begitulah pemikiran Raja Tujuh Koto ketika ia mengetahui bahwa istrinya sedang hamil besar. Keenam anaknya adalah laki-laki tangguh. Hal itu justru membuatnya semakin tidak menginginkan seorang anak perempuan.
“Rawatlah anak itu jika ia laki-laki, tetapi jika anak itu perempuan….”
Suara Raja berubah dingin. Tatapannya menggelap, menatap Permaisuri yang hanya terdiam sembari mengusap perutnya yang besar.
“Kamu tahu apa yang harus dilakukan, bukan, istriku?”
Permaisuri hanya mengangguk dalam diam. Anak perempuan akan dan harus dibunuh. Ia tahu itu.
Tangan Permaisuri terus mengusap perutnya yang besar. Anehnya, ia tidak merasa gelisah. Justru ada ketenangan aneh yang menyelimuti hatinya. Seperti ada dorongan tak kasat mata yang membujuk Permaisuri untuk tidak mengindahkan ancaman suaminya.
Raja tersenyum puas. Diamnya Permaisuri ia anggap sebagai tanda kepatuhan. Kemudian, Raja berangkat ke medan perang bersama keenam anaknya, meninggalkan Permaisuri dan kerajaan. Sejak saat itu, permaisuri terus memikirkan cara untuk menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungannya. Ia memiliki firasat bahwa anak yang dikandungnya adalah seorang perempuan.
Beberapa hari kemudian, suara tangis bayi memecah keheningan kamar Permaisuri.Anaknya telah lahir. Dan anak itu adalah perempuan. Jelas, hal itu akan menjadi kabar buruk bagi sang Raja.
Kelahiran anak ketujuh itu dirahasiakan oleh kerajaan atas perintah permaisuri. Raja tidak diperbolehkan mengetahui keberadaannya. Anak perempuan itu diberi nama Puti.
Selama beberapa hari, Puti dirawat dengan penuh kasih sayang oleh ibunya. Namun, sehari sebelum ayaha dan keenam saudara laki-lakinya kembali ke kerajaan, permaisuri membawa Puti pergi diam-diam ke dalam hutan.
Sebelum meninggalkan kerajaan, ia membuat sebuah makam palsu yang di dalamnya berisi bangkai kucing sebagai tipuan. Ia berharap dengan begitu, Raja akan percaya bahwa anak perempuannya telah meninggal. Permaisuri kemudian tergopoh-gopoh mengetuk sebuah rumah rapuh yang tampak seperti tidak dihuni oleh siapa pun.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang pria bernama Tuan Patih keluar.
“Ada apa gerangan hingga engkau datang kemari, Permaisuri?” tanya Tuan Patih.
Pandangan pria itu turun ke arah keranjang yang didekap erat oleh permaisuri. Dari dalamnya terdengar suara erangan kecil seorang bayi. Dengan gesit, Permaisuri menyerahkan keranjang itu kepada Tuan Patih.
“Rawat anakku. Ia bernama Puti. Kuserahkan ia kepadamu. Jangan sampai pihak kerajaan mengetahui keberadaan dan identitasnya,” ujar Permaisuri.
Tuan Patih mengerutkan kening, bingung.
“Wahai Permaisuri, saya belum pernah menikah dan tidak memiliki anak. Bagaimana engkau bisa mempercayai hamba?”
“Aku mempercayaimu, Tuan. Jaga putriku. Aku tidak ingin ia dibunuh oleh Raja.”
Permaisuri mengusap wajah Puti dengan lembut. Tangannya bergetar, seolah berat baginya untuk meninggalkan anak yang baru saja dilahirkannya.
Tuan Patih kemudian mengangguk tanpa banyak bertanya lagi dan Permaisuri akhirnya pergi.
Sejak saat itu, Tuan Patih memiliki Puti sebagai tanggung jawabnya. Ia merawat Puti seperti anaknya sendiri. Puti diajarkan untuk mencintai alam dan tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang dari Tuan Patih.
Tahun demi tahun berlalu. Kini, Puti telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik nan jelita. Kini, usiannya sudah tujuh belas tahun. Tuan Patih pun menceritakan asal-usul dan alasan mengapa Puti bisa hidup bersamanya selama ini.
Wajah Puti merah padam karena amarah. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang putri kerajaan. Ia juga tidak pernah tahu bahwa ayah kandungnya sendiri pernah berencana untuk membunuhnya hanya karena ia terlahir sebagai seorang perempuan. Sejak saat itu, Puti bertekad untuk membalas dendam kepada ayahandanya.
Suatu waktu, kabar tentang sang Raja yang kembali membawa kemenangan menggemparkan seluruh daerah Jambi. Untuk merayakan kemenangan tersebut, ia mengadakan pesta besar-besaran dan menyembelih banyak kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat.
Semua kalangan datang menghadiri pesta kerajaan. Kerajaan dipenuhi oleh keramaian dan kegembiraan. Namun, setelah pesta besar itu selesai, Raja mulai jatuh sakit. Tubuhnya semakin melemah hingga ia hanya mampu terbaring di atas kasur.
Kerajaan mulai diliputi kekacauan. Keenam anak laki-lakinya kalang-kabut ke sana kemari mencari tabib dan mengurus berbagai urusan kerajaan. Sementara itu, permaisuri hanya bisa menatap Raja dengan prihatin. Namun, ada perasaan janggal yang terus mengusik hatinya.
Saat malam tiba, permaisuri diam-diam pergi ke dalam hutan untuk menemui Tuan Patih. Pasti ada yang tidak beres, batinnya.
Tak lama kemudian, ia tiba di depan rumah Tuan Patih dan mengetuk pintunya. Pintu itu akhirnya terbuka. Namun, bukan Tuan Patih yang berdiri di sana, melainkan Puti. Melihat betapa cantiknya sang anak, Permaisuri terdiam.
Tanpa banyak bicara, Permaisuri langsung maju dan memeluk Puti ke dalam dekapannya. Ia tidak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun berpisah, anak yang dahulu ia tinggalkan demi menyelamatkan nyawanya kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang begitu cantik. Tak ia sangka, Puti membalas pelukannya.
“Ibu… ibuku,” ujar Puti menahan haru.
Permaisuri menatap Puti dengan terkejut.
“Kamu tahu, putriku?”
Puti mengangguk tegas. Ia berhenti sejenak. Tatapannya kemudian berubah menjadi penuh amarah.
“Kemudian, soal Ayah… maaf, Ibu. Aku yang membuatnya seperti itu. Aku sakit hati karena Ayah pernah berencana membunuhku. Ayah harus menderita,” Puti berkata dengan runtut dan menggebu-gebu.
Permaisuri masih terdiam. Ia berusaha mencerna setiap ucapan putrinya.
“Lalu bagaimana dengan nasib kerajaan, putriku? Ayahmu adalah pemimpinnya.”
Permaisuri menggenggam tangan Puti dengan tenang. Ia tahu bahwa dendam putrinya sangat besar. Namun, keberlangsungan kerajaan juga harus tetap berjalan. Puti menatap ibunya dengan tegas.
“Biarkan saja, Bu. Aku ingin Ayah menyesal. Ia harus tahu bahwa kaum perempuan tidaklah lemah,” lugas Puti.
Permaisuri menghela napas pelan. Ia tahu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengubah masa lalu. Namun, mungkin putrinya masih bisa mengubah masa depan. Akhirnya, ia mengangguk.
“Datanglah kepada ayahmu besok. Ucapkan apa pun yang kamu mau, anakku,” ujar Permaisuri.
Keesokan harinya, Puti dan Tuan Patih datang menghadap Raja Raja hanya mampu terbaring lemah di atas kasur. Wajahnya tampak pucat dan tubuhnya tidak lagi memiliki kekuatan seperti dahulu.
Puti berdiri di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia menatap langsung wajah ayah kandungnya. Pria yang dahulu ingin membunuhnya. Pria yang selama bertahun-tahun tidak pernah tahu bahwa anak perempuan yang ia anggap telah mati ternyata masih hidup.
“Yang Mulia,” ucap Puti tegas. “Akulah anak perempuan yang ingin kau bunuh dahulu.”
Suasana mendadak hening.
“Aku masih hidup. Dan rasa sakitmu hari ini adalah perwujudan dari dendamku selama ini.”
Semua orang yang berada di dalam ruangan kerajaan mulai berbisik-bisik. Mereka tidak menyangka bahwa sang Raja ternyata memiliki seorang anak perempuan yang selama ini disembunyikan.
Raja hanya terdiam. Air mata perlahan menitik dari sudut matanya.
“Maaf…,” suara Raja bergetar. “Maafkan aku, anakku…”
Untuk pertama kalinya, Raja Tujuh Koto menyadari kesalahannya. Namun, Puti tidak langsung luluh. Ia menaikkan dagunya dengan tegas.
“Aku ingin Ayah mengakuiku sebagai anak perempuanmu. Namun, aku tidak ingin mengambil tahta. Turunkanlah tahta kepada anak pertama.”
Puti menarik napas sejenak.
“Dan berikan pesan kepada seluruh rakyat bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah.”
Raja hanya bisa terdiam mendengar perkataan putrinya.
Setelah pertemuan itu, berita bahwa Raja Tujuh Koto memiliki seorang anak perempuan tersebar ke seluruh masyarakat. Banyak yang tidak percaya. Banyak pula yang mencaci-maki sang Raja karena pemikirannya di masa lalu.
Akhirnya, tahta kerajaan diturunkan kepada anak pertama. Sejak saat itu, kehidupan perempuan di kerajaan mulai disejahterakan. Tidak ada lagi pembunuhan terhadap anak perempuan hanya karena jenis kelamin mereka. Tidak ada lagi sikap kasar dan pandangan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah.
Kerajaan perlahan berubah. Bukan karena kekuatan seorang raja, melainkan karena keberanian seorang perempuan yang pernah dianggap tidak layak untuk hidup.
Kini, Puti dan Tuan Patih hidup dalam lindungan pihak kerajaan. Puti menjadi tokoh yang menjunjung tinggi keadilan bagi kaum perempuan. Ia terus mengingatkan masyarakat bahwa seorang perempuan bukanlah makhluk yang lemah dan tidak berharga.
Puti menjalani kehidupannya dengan sejahtera. Ia adalah seorang anak perempuan yang dahulu hampir kehilangan nyawanya hanya karena terlahir sebagai perempuan. Namun, ia berhasil bertahan, ia hidup, dan pada akhirnya, keberadaannya menjadi alasan bagi sebuah kerajaan untuk berubah.
TAMAT
NB: Cerita ini terinspirasi dari cerita Nenek Puti.
Tentang Penulis: Halo, nama saya Nikmatuz Zakia, saat ini saya menduduki bangku kelas X E-5 di SMAN 3 Bungo. Saya ingin mendalami ilmu kepenulisan karena saya bercita-cita ingin menjadi penulis novel.
*cerpen hasil workshop Monofolk Tur!
