Ketika Tradisi Menjadi Belati: Catatan Atas “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam”
Oleh: Widya Angraini Ramadhani
Kurang dari lima jam saya habiskan untuk buku setebal tiga ratus halaman ini. Cepat, bahkan mungkin terlalu cepat, untuk sebuah cerita yang ternyata meninggalkan begitu banyak beban di kepala saya. Ketika halaman terakhir “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” karya Dian Purnomo selesai dibaca, ceritanya memang rampung, tetapi kemarahan saya tidak. Buku ini telah menutup babaknya, tetapi resonansi emosionalnya terus berdengung di dalam dada, menolak untuk diam begitu saja.
Saya sedih. Miris. Marah. Dan yang paling tertinggal di dalam dada adalah rasa tidak terima yang teramat sangat.
Novel ini bercerita tentang Magi Diela, seorang perempuan Sumba cerdas yang bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pertanian dan harus berhadapan dengan mimpi buruk bernama yappa mawine atau kawin tangkap. Sejak awal membuka lembarannya, saya tidak sedang membaca sebuah fiksi hiburan biasa yang dibaca sekadar untuk mengisi waktu luang di sore hari. Saya dipaksa melihat dari dekat bagaimana sebuah tradisi bisa menjelma menjadi alat yang sangat menakutkan, ketika manusia di dalamnya kehilangan hak mutlak atas tubuh, suara, dan kehidupannya sendiri.
Saya terus bertanya-tanya sembari membalik halaman demi halaman: hukum adat macam apa yang membenarkan perlakuan keji terhadap Magi?
Jika kita menelusuri alur cerita secara lebih dekat, kepedihan Magi bermula dari sebuah siang yang sangat biasa di kantornya. Ia bersiap menempuh perjalanan dinas menuju desa Hupu Mada untuk memberikan penyuluhan kepada kelompok tani. Namun, di tengah perjalanan yang sepi, sebuah mobil pickup tiba-tiba mencegatnya. Sekelompok lelaki dengan parang terselip di pinggang merenggut kebebasannya secara paksa, mengangkat tubuhnya ke atas bak terbuka, dan membawanya menuju perangkap mengerikan di Patakaju. Perjalanan yang awalnya dipenuhi dedikasi seorang anak muda untuk membangun daerahnya seketika berubah menjadi mimpi buruk yang paling gelap.
Yang membuat saya semakin muak bukan sekadar tindakan penculikannya yang dilakukan secara semena-mena, tetapi bagaimana situasi itu seolah mendapat pemakluman dari lingkungan sosial di sekitarnya. Leba Ali, sang dalang di balik penculikan tersebut, dengan uang dan pengaruh kekuasaannya, tampak leluasa mempermainkan keadilan seolah harga diri manusia bisa diperjualbelikan begitu saja. Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kejahatan individu yang berdiri sendiri, melainkan cerminan dari sistem sosial yang patriarkis. Masyarakat, aturan, dan cara pandang kolektif bekerja sama menempatkan perempuan di sudut paling lemah, bahkan ketika keluarga terdekat ikut terjebak dalam tekanan adat tersebut, termasuk sang ayah yang perlahan menyerah pada keadaan.
Dinamika hubungan antara Magi dan ayahnya, Ama Bobo, menjadi salah satu bagian yang paling menyayat hati dalam novel ini. Sebagai seorang anak, Magi selama ini percaya bahwa ayahnya adalah sosok pelindung yang bangga dengan pencapaian akademisnya di Yogyakarta. Namun, ketika benturan adat terjadi, sang ayah justru tak berdaya menghadapi wunang atau juru bicara keluarga penculik. Tekanan sosial membuat ayahnya tunduk pada kesepakatan belis atau mahar, mengorbankan masa depan anak kandungnya sendiri demi menjaga muka di hadapan para pemuka adat. Pengkhianatan terselubung dari orang tua yang paling diandalkan ini menambah dimensi kepedihan yang luar biasa dalam hidup Magi.
Namun, ada satu titik puncak dalam buku ini yang paling merusak ketenangan saya: keputusasaan Magi yang ditunjukkan lewat cara-cara ekstrem demi menolak takdirnya. Termasuk ketika ia mencoba melukai pergelangan tangannya sendiri, menggigitnya hingga robek karena tidak sudi menyerah pada pemerkosanya. Pemandangan itu terasa begitu menyayat hati dan membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana bisa seseorang sampai pada titik di mana kematian terasa jauh lebih baik ketimbang hidup dalam kungkungan ketidakadilan? Keputusasaan itu menjadi bukti nyata betapa hancurnya jiwa seorang korban yang tidak mendapatkan perlindungan dari sistem di sekitarnya.
Ditambah lagi dengan anggapan sosial yang melekat begitu erat: bahwa perempuan yang sudah diculik tidak akan diterima lagi di masyarakat karena dianggap sudah tidak perawan. Kenapa? Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya tanpa henti. Sejak kapan nilai hidup seorang perempuan ditentukan oleh keutuhan selaput daranya? Mengapa pengalaman pahit akibat menjadi korban kekerasan justru berbalik menjadi senjata untuk menghakiminya dan membuatnya merasa bersalah? Mengapa perempuan harus menanggung seluruh beban moral dan sosial seorang diri, sementara si pelaku tetap melenggang bebas tanpa noda kehormatan yang tercoreng?
Perempuan adalah manusia seutuhnya. Ia punya kehendak, impian, masa depan, dan hak penuh atas hidupnya sendiri. Rasanya tidak masuk akal bagaimana sebuah peradaban bisa mendefinisikan hilangnya kehormatan seseorang hanya karena tubuhnya direnggut secara paksa oleh orang lain. Pertanyaan saya bahkan melebar pada hal yang lebih mendasar dan menggelitik logika: mengapa yang selalu menjadi korban culik adalah perempuan? Mengapa tidak pernah laki-laki? Pertanyaan tersebut barangkali terdengar sederhana di telinga sebagian orang, tetapi dari sanalah ketimpangan yang nyata terpampang dengan jelas. Tradisi tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia membawa nilai, kuasa, dan cara pandang. Ketika sebuah aturan adat hanya menindas satu pihak secara konsisten, sudah seharusnya kita berani mempertanyakannya alih-alih menutup mata.
Di balik tema yang sangat berat dan menguras emosi itu, novel ini disajikan dengan gaya penceritaan yang relatif ringan, mengalir, dan sangat manusiawi. Saya bisa menamatkan tiga ratus halaman dalam hitungan jam tanpa harus merasa pusing dicekik oleh teori sastra yang rumit. Namun, kemudahan membaca itu justru membuat dampaknya terasa kian dekat dan menohok. Penderitaan Magi tidak berjarak dari realitas kita hari ini. Kehadiran elemen-elemen penopang seperti jaringan solidaritas perempuan dari Gema Perempuan juga menunjukkan bahwa perlawanan tidak pernah harus dipikul seorang diri. Melalui novel ini, saya mendapatkan wawasan baru yang mendalam tentang kompleksitas kebudayaan Sumba, bahwa ada sisi-sisi tradisi yang ternyata tidak lagi sejalan dengan nilai kemanusiaan universal.
Hal ini membawa saya pada renungan panjang tentang kata budaya. Kita sering dicekokkan narasi bahwa tradisi adalah identitas suci yang wajib dilestarikan mati-matian tanpa boleh digugat. Saya tentu tidak menolak pentingnya merawat akar budaya dan kekayaan leluhur. Namun, setelah membaca kisah hidup Magi, saya percaya bahwa melestarikan warisan masa lalu tidak boleh dilakukan dengan menutup mata atas penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di dalamnya.
Bagaimana jika sebuah tradisi merampas kemerdekaan dasar seseorang? Bagaimana jika warisan leluhur justru melanggengkan kekerasan berbasis gender? Sebab, lamanya sebuah praktik dilakukan secara turun-temurun tidak otomatis membuatnya menjadi benar di mata kemanusiaan. Manusia terus berubah, zaman terus bergerak maju, dan sudah sepatutnya cara kita memperlakukan sesama manusia ikut berevolusi ke arah yang lebih adil.
Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam menyadarkan saya bahwa tidak semua hal yang dilegitimasi sebagai budaya layak untuk dipertahankan begitu saja. Budaya yang sehat seharusnya menjadi ruang yang aman bagi manusia untuk bertumbuh, merdeka, dan berlindung, alih-alih menjelma menjadi algojo tak kasat mata yang merenggut hak hidup mereka. Novel ini mungkin memupuk rasa sesak yang panjang di dada saya, tetapi ia juga menyalakan api kesadaran bahwa diam bukanlah pilihan ketika kemanusiaan sedang diinjak-injak di hadapan kita.

