LUKA ASIH
Ardila Dwiva
Asih, gadis SMA berpenampilan lugu dengan kacamata yang menghiasi mata indahnya, rambutnya sedikit lepek akibat terpapar sinar matahari, wajahnya lesu, dan matanya sayu karena lelah.
“Kapan semua ini berakhir?”
Asih bangun dengan terengah-engah, jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Asih sontak membulatkan mata ketika mendapati dirinya sudah terlambat untuk datang ke sekolah. Ia turun dari ranjang dengan malas, tak ada kata semangat dalam dirinya. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara ia melewati hari ini.
Asih mengumpat kesal ketika sampai di depan gerbang sekolah SMAN 7 KERINCI. Pintu gerbang telah tertutup rapat. Alhasil ia harus memanjat pagar di belakang sekolah. Beruntungnya guru yang mengajar di kelas Asih berhalangan hadir, jadi kali ini ia lolos dari amukan dan hukuman. Namun, ia tidak lolos dari para perundung yang sering melakukan tindak kekerasan terhadapnya.
“Guyss, Si Culun telah tiba. Mari kita sambut dengan meriah!” teriak salah satu teman sekelas Asih.
Mendengar hal itu, perhatian mereka teralihkan. Kelas menjadi riuh dipenuhi sorakan, makian, serta tepuk tangan seolah menghina. Asih yang masih berdiri di ambang pintu kelas menundukkan pandangan, enggan menatap mereka. Langkahnya terasa berat untuk memasuki kelas itu, tubuh gemetar dan keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.
Asih melangkahkan kaki memasuki kelas dengan pandangan yang terus menunduk. Asih terpekik saat seseorang dengan sengaja menghadang kakinya yang membuatnya terduduk di lantai yang dingin dan kotor.
“Kasian banget hidup kamu,” hardik Ival, teman sekelasnya Asih.
Asih bangkit lalu pergi tanpa menghiraukan ejekan bajingan itu. Asih mendudukkan dirinya di kursi dan menaruh tas di atas meja lalu menjatuhkan kepala di sana.
Sari, teman sekelas Asih, melangkahkan kakinya ke arah tempat duduk Asih. Dengan lancangnya, ia lancangnya menoyor kepala Asih. Asih mengangkat pandangan ke arah mereka dengan alis terangkat sebelah seolah bertanya ada apa.
BYURRR!
Sari dengan sengaja menumpahkan sebotol susu ke arah Asih diiringi dengan suara tawa meremehkan dari teman-temannya.
BRAK!
Asih menggebrak meja lalu berdiri. Kedua tangannya mengepal, wajah memerah menahan amarah, rahangnya mengeras, tatapan yang tadinya teduh berubah nyalang, dan air mata mulai mengalir deras.
“Mau kalian apa sih?” ujar Asih dengan suara bergetar.
Ia sudah tak tahan lagi atas perlakuan teman-temannya. Asih berteriak nyalang dengan amarah yang memuncak, meluapkan seluruh kekesalannya selama ini. Membuat yang lainnya bungkam. Beberapa dari mereka menatapnya aneh. Apakah ini sosok yang mereka kenal?
“Kita mau kamu pergi dari sini selamanya,” sarkas Sari dengan tangan dilipat di dada.
Asih berlari keluar kelas, air mata terus meluruh dari balik pelupuk matanya. Ada rasa sakit yang tak bisa dirinya ungkapkan.
Kini Asih sedang berada di halaman belakang sekolah. Ia duduk termenung dengan pohon sebagai tempat sandarannya. Tatapannya kosong. Pikirannya penuh dengan kalimat cacian dan makian yang pernah orang-orang lontarkan kepadanya. Langit abu-abu yang menggantung seolah mendukung perasaannya saat ini.
“Dunia sudah tidak memihak padaku lagi,” gumam Asih terisak pelan.
Asih pulang dengan langkah gontai menyusuri jalanan yang padat akan kendaraan yang berlalu lalang. Tubuhnya basah kuyup akibat menerobos hujan. Wajahnya pucat pasi, rambut berantakan, dan pikirannya pun melayang entah kemana.
Asih adalah yatim piatu sejak ia berusia lima tahun. Ia diasuh oleh neneknya yang tunanetra dan kakeknya. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dengan dinding yang rapuh termakan oleh waktu. Di bawah kaki Gunung Kerinci dengan hawa yang sejuk dan pemandangan yang indah, membuat mereka betah bertahan di gubuk kecil itu. Semenjak beranjak dewasa, Asih menjadi tulang punggung bagi keluarga. Untuk mencukupi kebutuhan, ia berjualan kue keliling setiap pulang sekolah.
Asih ingin menyebrang jalan untuk mampir ke sebuah toko sembako. Ia ingin membeli beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue. Namun, tanpa ia sadari sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh dari arah barat….
BRAK!
Asih tak sempat untuk menghindar. Sebuah tabrakan tak terelakkan terjadi, Asih terpental beberapa meter dari tempat dirinya berdiri. Darah bercucuran dari kepala membuatnya kehilangan kesadaran. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya mulai membiru. Warga sekitar mulai berkerumun.
Setelah dibawa ke rumah sakit, Asih telah dinyatakan tiada. Ia kini terbujur kaku di bawah gundukan tanah dengan papan yang bertuliskan namanya, tempat yang biasanya sepi kini di penuhi oleh orang-orang mengenakkan baju hitam dan putih , suasana yang biasanya hening kini diselimuti oleh isak tangis pilu.
Asih, anak yang sering dicaci dan dihina itu kini sudah beristirahat dengan tenang. Tak ada lagi rasa sakit, hinaan, serta makian. Yang ada hanyalah tatapan hampa dan kasihan dari orang-orang sekitarnya.
TAMAT
Tentang Penulis: Ardila Dwiva adalah murid SMAN 7 Kerinci.
