JEMBATAN ALE SIDOGA
Zulaikha Riskiana
Gemericik air terdengar dari bawah air terjun, menandakan betapa derasnya arus air tersebut mengalir. Airnya masih biru sebening kaca, udaranya yang masih sejuk merasuk ke dalam tubuh, memberikan ketenangan jiwa. Pohon-pohon hijau yang rimbun mengelilinginya. Anak laki-laki itu berdiri dengan tegak di atas tebing, untuk melancarkan aksinya. Ia, melompat dari tebing itu, menceburkan dirinya ke sungai.
“Lompatan ku keren kan, Pak?” tanyanya, senyuman yang terukir cerah di wajahnya bagaikan bunga yang baru mekar, indahnya semangat jiwa muda.
Tampak seorang pria paruh baya berusia sekitar 40 tahunan, mengawasinya dari tepi sungai, sambil memegangi jaring ikan. Ia, hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak itu. Anak laki-laki itu bernama Ale Sidoga, anak berumur 10 tahun yang sangat suka bermain di sungai, sambil menemani ayahnya menangkap ikan, untuk di jual di pasar.
Tak terasa hari semakin gelap, mereka harus segera bergegas pulang. Meskipun tangkapan ikan yg di dapat tidak banyak, tapi setidaknya mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka tinggal di desa Bukit Timbul, yang terkenal dengan lingkungannya yang masih sangat asri.
“Ale, sudah main airnya, ayo pulang.”
Di tengah perjalanan menuju arah pulang, langkah Ale terhenti, matanya menatap ke arah jembatan gantung yang selalu membuat nya penasaran. Mengapa jembatan ini tidak pernah dilewati, dan kenapa orang-orang malah melewati jalan yang lebih jauh jika tidak melewati jembatan ini.
“Kenapa malah berhenti? Cepat jalan lagi,”
“Ale, penasaran, Pak. Kenapa kita gak lewat jembatan aja? Kan lebih cepat sampainya?” ungkapnya.
Sebuah pertanyaan mengejutkan yang dilontarkan Ale, membuat Ayahnya kebingungan. Pasalnya tak ada seorang pun, orang-orang desa Bukit Timbul yang mempersoalkan jembatan ini. Sama seperti halnya menjaga adat atau kepercayaan, sudah seperti aturan bagi desainer, agar orang-orang tak melewati nya.
“Bapak, juga kurang tau le. Kita kan juga pindahan ke sini, jadi harus mengikuti aturan di desa ini. Sudahlah, tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu,” imbuh Ayahnya.
Dengan raut wajahnya yang bagaikan kain lap kusut, Ale pun pulang ke rumah tanpa terjawab rasa penasarannya.
Keesokan harinya, setelah fajar terbit, Ale pun ikut ayahnya ke pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan mereka. Lapak beralaskan tikar rotan ditambah meja kayu itu menjadi tempat berdagang Ale dan Ayahnya. Terlihat banyak orang berlalu lalang, ada ibu-ibu yang kesusahan membawa belanjaan nya, ada bapak-bapak yang sedang asyik mengobrol di warung kopi, dan lain sebagainya.
Matahari sudah semakin naik dan terik. Beberapa pedagang terlihat sudah membereskan beberapa lapak dagangannya. Tetapi, ada pula yang masih sibuk berdagang. Mungkin mau berdagang Sampai malam?
“Karena sudah habis ikannya terjual, Ale pergi main dulu ya, Pak!”
“Mau main kemana lagi?” ucap ayahnya sembari membereskan lapak dagangan mereka.
“Biasa pak, ke sungai. Banyak temennya kok, ada Anton, sama Gani juga. Boleh ya, Pak?”
“Tapi kamu harus hati-hati ya, jangan pulang terlalu sore. Nah, makan ini bersama teman- teman mu,” ayahnya menyodorkan wadah bekal, berisi beberapa potong roti.
Beberapa saat kemudian, Anton, dan Gani pun datang menghampiri Ale. Ale, pun mencium punggung tangan ayahnya sebelum pergi. Belum sempat menginjakkan kaki ke luar pasar bersama teman-temannya, Ale mendengarkan sesuatu yang tak asing di telinganya dari ibu-ibu pasar yang tengah asik menggibah
“Eh, Buk Salmah. Sudah tau belum? Katanya jembatan itu makan korban lagi ya?” tanya Bu Ani.
“Iya loh, Buk. Saya aja ga berani lewat jembatan itu, meskipun jalannya lebih jauh kalo nggak lewat jembatan itu, yang penting saya aman dan ga terjadi apa-apa.”
“Masalah nya, kemarin itu yang ngelewatin jembatan ini tuh, ibu hamil yang mau melahirkan.”
“Karena sudah kepepet, jadinya harus lewat jembatan itu buat pergi ke puskesmas,” tambah Bu Ani.
“Aduh! kasihan sekali ya buk, “
Ale hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi. Dengan rasa penuh semangat, Ale pun mengajak teman-teman nya untuk mempercepat langkah kakinya.
“Anton, Gani, kalian tidak penasaran kah dengan jembatan itu? Kenapa ya orang-orang tidak berani melewati nya?” ungkap Ale dengan raut wajahnya yang bingung.
“Kalau kata nenek ku ya, dulunya jembatan itu selalu digunakan untuk kegiatan sehari-hari para warga desa, sampai suatu hari sudah tidak digunakan lagi,” jawab Anton sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal.
“Dari pada penasaran, bagaimana kalau kita coba saja sendiri, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu?” saran Gani yang ingin menjawab semua pertanyaan Ale selama ini.
Jantungnya berdegup kencang seakan tersetrum listrik, rasa ingin tahu nya menguap-uap bagaikan air yang telah mendidih. Jiwa-jiwa muda yang ingin tahu akan segala hal yang terjadi di sekitarnya.
Setibanya di sungai, mereka terlebih dulu memakan bekal yang diberikan oleh Ayah Ale. Setelahnya, baru lah mereka mendekat ke arah jembatan itu. Jika diperhatikan lagi dari dekat, terlihat jelas besi-besi yang menjadi pegangan jembatan itu sudah berkarat, papan kayu yang menjadi pijakan pun terlihat sudah rapuh dan bisa jatuh pakan saja jka dipijak. Ketika ingin melangkahkan kakinya, seorang kakek tua pun menghentikan mereka. Kakek itu sering dipanggil dengan sebutan Kek Karta.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kek Karta, yang tertatih-tatih berjalan ke arah mereka.
“Kami mau lewat jembatan ini, Kek,” sahut Ale, ia mengerutkan kan keningnya, merasa terganggu dengan kehadiran Kek Karta, karena sudah menghalangi mereka.
“Kalian mau mati?!” marah Kek Karta.
Ale dan teman-temannya hanya bisa terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Kek Karta. Mereka pun perlahan-lahan berjalan menjauh dari jembatan itu. Kek Karta pun mendekati ke arah Ale, lalu menepuk-nepuk pundak nya. Setelah itu, Kek Karta menasehati mereka agar tidak melakukan hal yang berbahaya dan mengajak Ale, serta teman-temannya untuk mampir kerumah Kek Karta jika ingin semua pertanyaan mereka terjawab.
Sesuai perkataan Kek Karta, Ale dan teman-temannya pun mengikuti Kek Karta untuk menjawab rasa penasarannya. Letak rumah Kek Karta tidak terlalu jauh, hanya terletak di tepi hilir sungai yang sering mereka datangi untuk bermain. Rumah Kek Karta seperti rumah rakit, rumah adat yang berbentuk rumah apung di atas air yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, rumah ini berdiri di atas rangkaian bambu atau batang kayu besar.
“Sebenarnya, jika mengingat rumor yang beredar di kalangan masyarakat desa kita, yang mengatakan jembatan itu memakan tumbal lah, atau pun segala macam, semua itu salah besar,” ucap Kek Karta sambil menyajikan makanan pada Ale dan teman-temannya.
Kek Karta menambah, kecelakaan yang merenggut banyak korban selama ini bukan karena berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis, seperti jembatan yang menginginkan tumbal,. Tetapi karena kurangnya infrastruktur jembatan yang memadai dan aman. Mengakibatkan Banyak orang tak berani melewati nya.
“Kalau seperti itu kenapa tidak diperbaiki saja, Kek?” tanya Ale.
“Sepertinya susah, mengingat rasa gotong royong di masyarakat kini semakin melemah, kondisi Kakek saat ini juga susah jika harus pergi ke pusat desa untuk mengajak orang-orang memperbaiki jembatan.”
“Kalau begitu bagaimana jika Ale bantu menyampaikan nya pada warga desa melalui Pak RT, Kek?”
Usulan Ale pun diterima oleh Kek Karta dan teman-temannya. Sepulang dari rumah KekKarta, ia pun menceritakan kejadian hari ini kepada Ayahnya, dan meminta ayahnya untuk menemani nya ke rumah pak RT. Ale mengusulkan untuk mengajak warga desa memperbaiki jembatan, agar bisa digunakan kembali, serta memperlancar kegiatan sehari-hari para warga desa. Berkat usulan Ale disetujui oleh pak RT, segeralah proyek renovasi jembatan dilakukan.
Hari demi hari berlalu, beberapa bulan setelah renovasi jembatan selesai, jembatan pun akhirnya bisa digunakan kembali. Rasa syukur dan senang membanjiri perasaan warga desa, karena tidak perlu melewati jalan yang lebih jauh lagi. Ale dan teman-temannya pun mendatangi jembatan itu kembali. Warga desa yang berterima kasih atas usulan Ale hari itu, memberikan nama kepada jembatan itu, yaitu “Jembatan Ale Sidoga” sebagai bentuk apresiasi kepada Ale.
TAMAT
