Membaca Naskah-Naskah Pilihan FTR 2026, Peta Awal Sebelum Pilihan Diputuskan (Bagian I)
Dari Rimba, Bukit, dan Tanah yang Retak
Oleh Titas Suwanda
Festival Teater Remaja (FTR) akan kembali digelar. Taman Budaya Jambi (TBJ) selaku penyelenggara “iven” tahunan ini, resmi merilis petunjuk teknis (juknis) melalui akun media sosial mereka. Iven yang ditunggu-tunggu pelajar dan remaja peminat seni peran panggung ini akan dihelat pada Oktober mendatang. FTR 2026 akan mempertemukan kelompok teater pelajar dan remaja melalui sejumlah naskah yang memiliki latar, persoalan, tokoh, dan kemungkinan pemanggungan yang beragam.
Memilih naskah teater tentu bukan sekadar memilih cerita yang dianggap menarik. Pembacaan terhadap naskah perlu diawali dengan pertanyaan yang lebih kritis. Apa yang sebenarnya ingin dimainkan? Konfliknya seperti apa? Tokohnya memberi ruang bagi aktor untuk berkembang atau tidak? Apakah cerita itu bisa diterjemahkan menjadi peristiwa panggung? Hal yang tidak kalah penting, apakah gagasan naskah tersebut sesuai dengan kemampuan kelompok yang akan memainkannya?
Naskah yang tampak sederhana bisa saja menjadi pertunjukan yang kuat ketika digarap dengan gagasan penyutradaraan yang tepat. Sebaliknya, naskah yang memiliki cerita besar bisa saja kehilangan daya panggung apabila hanya diperlakukan sebagai dialog yang harus dihafalkan.
Berpangkal dari pemikiran itu, tulisan berseri ini tidak dimaksudkan untuk menentukan naskah mana yang “paling baik”. Setiap naskah memiliki karakter dan tuntutan panggungnya sendiri. Tulisan ini merupakan peta awal agar calon peserta FTR dapat membaca pilihan mereka dengan lebih sadar.
Pada bagian pertama ini, akan dibedah enam naskah yang bergerak di sekitar persoalan alam, tradisi, masyarakat, dan perubahan: GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH, Bukit Perak, Celebau, Cenenggo, Hantu Aek, dan Kampung yang Hilang.
- GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH karya Asro Al Murthawi
GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH menjadi naskah yang sejak awal terasa seperti cerita yang menunggu untuk dimainkan. Ya, GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH termasuk jenis naskah seperti itu. Tokoh-tokohnya antara lain Datuk Tamol, Tingkas, Puti Muyu, Barasdak, dan Julrawas. Namun daya tarik utama naskah ini bukan hanya terletak pada siapa mereka, melainkan pada dunia yang mengelilingi mereka: rimba, suara, ancaman, binatang, kepercayaan, dan rasa takut.
Cerita semacam ini memberi kesempatan kepada sutradara untuk tidak membangun hutan secara harfiah. Panggung tidak harus dipenuhi pohon-pohon buatan. Hutan dapat dibangun melalui suara, cahaya, gerak tubuh, bayangan, kabut, ritme, dan kehadiran sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar diperlihatkan.
Di sinilah kekuatan utama naskah ini. Bukan sekadar cerita tentang harimau
Jika tokoh harimau hanya diwujudkan sebagai pemain yang mengenakan kostum harimau, kemungkinan terbesar pertunjukan justru menjadi terlalu literal. Sebaliknya, harimau dapat menjadi kehadiran. Suara geraman terdengar dari kegelapan. Para tokoh tiba-tiba berhenti berbicara. Seseorang melihat sesuatu di luar panggung. Cahaya berpindah. Aktor lain bereaksi sebelum penonton mengetahui apa yang terjadi. Dengan cara itu, penonton tidak hanya “melihat harimau”. Penonton percaya dan merasakan bahwa harimau benar-benar ada.
Konsep tersebut membuka ruang yang sangat besar bagi keaktoran fisik. Aktor dituntut untuk tidak hanya mengandalkan dialog, tetapi juga kemampuan mendengar, bereaksi, mengamati, menyembunyikan rasa takut, bergerak dalam tekanan, dan membangun hubungan dengan ruang.
Konfliknya berlapis. Naskah ini dapat dibaca melalui beberapa lapisan konflik: manusia dengan alam, manusia dengan binatang, manusia dengan rasa takut, serta hubungan antarmanusia yang muncul ketika mereka menghadapi ancaman. Karena itu, tantangan penyutradaraannya bukan sekadar membuat adegan “seram”. Ketegangan perlu dibangun secara bertahap. Kapan penonton mulai merasa ada sesuatu? Kapan aktor mulai menyadarinya? Kapan ancaman itu menjadi nyata? Apa yang berubah pada diri tokoh setelah mereka melewati pengalaman tersebut?
Pertanyaan terakhir penting karena pertunjukan yang kuat bukan hanya menghadirkan kejadian, tetapi memperlihatkan perubahan manusia akibat kejadian tersebut.
Tantangan
Jika memilih naskah ini, peserta dituntut mampu mengerjakan seluruh elemen. Suara, cahaya, musik, blocking, gerak aktor, dan tempo adegan harus bekerja sebagai satu sistem. Artinya, kelompok yang memilih naskah ini harus siap berlatih bukan hanya dialog, tetapi juga tubuh dan kepekaan panggung. Kekuatan naskah ini berada pada kemungkinan menjadikan panggung sebagai rimba.
- BUKIT PERAK karya Resti Anggratiani
Bukit Perak membawa penonton ke dunia masyarakat yang masih memiliki hubungan kuat dengan tempat, pantangan, ritual, dan kepercayaan. Tokoh Noglog dan Bono digambarkan sebagai dua pemuda yang jahil dan tidak memahami tradisi. Mereka memasuki hutan untuk mencari babi polkadot. Dalam perjalanan itu, Noglog menginjak sesajen yang diletakkan di hutan.
Setelah kejadian tersebut, gangguan dan penyakit mulai muncul.
Secara dramaturgi, premis ini menarik karena sebuah tindakan yang pada awalnya dianggap sepele kemudian menghasilkan konsekuensi yang semakin besar.
Kekuatan utama Bukit Perak adalah pertunjukan dengan premis tradisi Bukit Perak dapat menjadi ruang pertunjukan yang kaya. Hutan, sesajen, penyakit, pantangan, perjalanan mencari pengobatan, serta berbagai figur yang mereka temui dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual.
Dua tokoh utama, Noglog dan Bono, juga memberi kemungkinan permainan komedi. Namun komedi di sini sebaiknya tidak membuat seluruh dunia ritual menjadi bahan lelucon. Justru akan lebih menarik jika penonton dapat merasakan bahwa bagi Noglog dan Bono sesuatu itu lucu atau tidak masuk akal, tetapi bagi masyarakat di dalam cerita, sesuatu itu memiliki makna. Perbedaan cara pandang itulah yang dapat menjadi sumber permainan.
Tantangan
Tantangan naskah ini adalah perubahan suasana. Dari komedi menuju ketegangan. Cerita bergerak dari tingkah dua pemuda yang jahil menuju penyakit, gangguan, dan persoalan yang lebih serius. Jika perubahan ini berlangsung terlalu cepat, pertunjukan bisa terasa terbelah menjadi dua: bagian komedi dan bagian tragedi.
Sutradara perlu mencari jembatan di antara keduanya. Misalnya, gangguan yang dialami tokoh dapat dimulai dari sesuatu yang hampir lucu, kemudian perlahan menjadi semakin mengganggu. Dengan begitu, penonton ikut mengalami perubahan suasana bersama tokoh.
Naskah ini menyediakan ruang eksplorasi keaktoran. Noglog dan Bono memiliki potensi menjadi pusat permainan aktor. Mereka dapat dibangun sebagai dua karakter dengan respons berbeda terhadap kejadian yang sama. Yang satu mungkin lebih berani. Yang lain lebih mudah takut. Yang satu menertawakan pantangan. Yang lain mulai ragu. Perbedaan itu penting karena akan membuat hubungan keduanya hidup.
Kelompok yang ingin menggabungkan komedi, ketegangan, tradisi, dan permainan aktor, Bukit Perak pilihan yang cocok. Tantangan terbesarnya adalah menjaga agar perubahan suasana tetap terasa organik.
- CELEBAU Karya Oky Akbar
Jika beberapa naskah sebelumnya membawa kita ke hutan, Celebau membawa kita ke persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: tanah, kemarau, kebutuhan ekonomi, dan akibat dari pilihan manusia terhadap alam.
Hujan tidak turun selama berbulan-bulan. Tanah retak. Sawah gagal menghasilkan panen. Yanto, yang bergantung pada sawah, mengalami tekanan ekonomi. Dalam situasi tersebut datang tawaran untuk mengolah tanah warisan istrinya. Pohon-pohon ditebang dan tanah dikeruk dengan alasan ekonomi.
Pilihan itu pada awalnya tampak masuk akal. Justru di sinilah konflik naskah bekerja.
Tidak ada konflik yang sesederhana “baik melawan jahat” dalam Celebau. Yanto tidak harus dimainkan sebagai tokoh jahat. Ia berada dalam tekanan. Ia membutuhkan uang. Keluarganya membutuhkan penghasilan. Anaknya membutuhkan biaya. Dalam kondisi seperti itu, keputusan yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan bisa saja terlihat sebagai jalan keluar.
Ini membuat konflik Celebau lebih menarik jika tidak dimainkan secara hitam-putih. Hal yang perlu diperlihatkan adalah tekanan yang membuat seseorang mengambil keputusan tertentu.
Tantangan
Tantangan terkuat Celebau adalah tantangan keaktoran. Tokoh Yanto memiliki perjalanan karakter yang cukup jelas. Ia berangkat dari seorang petani yang terdesak keadaan, mengambil keputusan, kemudian berhadapan dengan konsekuensinya.
Aktor yang memainkan Yanto harus mampu menunjukkan perubahan tersebut secara bertahap. Jangan sampai pada awal pertunjukan ia sudah tampak sebagai “orang yang akan melakukan kesalahan”, sementara pada akhir cerita tiba-tiba menjadi “orang yang sadar”. Yang lebih menarik adalah memperlihatkan proses perubahan itu.
Selain itu, latar alam pada Celebau dapat digarap sebagai bagian dari dramaturgi. Naskah ini memiliki kemungkinan visual yang besar. Panggung dapat dimulai dengan tanah kering dan retak. Suara angin dan dedaunan yang kering mengisi ruang. Aktivitas manusia menjadi semakin keras ketika alat-alat mulai bekerja. Kemudian ritual Celebau hadir. Setelah itu hujan. Tetapi hujan yang dinantikan justru membawa persoalan baru: banjir, longsor, dan akibat dari perubahan lingkungan.
Dengan demikian, air tidak hanya menjadi latar cerita. Air menjadi bagian dari struktur dramatik. Kekeringan-Menunggu-Berusaha-Memohon-Hujan-Bencana. Rangkaian tersebut dapat membentuk ritme pertunjukan.
Celebau sangat potensial bagi kelompok yang ingin menggabungkan persoalan sosial dengan kekuatan visual panggung.
- CENENGGO Karya Suwandi
Cenenggo memiliki kekuatan dramaturgis yang sangat sederhana sekaligus sangat besar: pembahasan tentang jarak. Dalam kajian sederhana Cenenggo bisa jadi sangat dangkal. Tetapi, jika dikaji secara dalam, persoalan jarak akan sangat berlapis.
Naskah ini menghadirkan tokoh Meriau, Induk Nyerau, Bungo Dewo, Malim Pematang, Betuah, Nyeruduk, dan Suami Malim Pematang. Di dalam cerita terdapat situasi ketika seseorang yang sakit harus dipisahkan dari kelompok.
Bagi pertunjukan teater, kondisi tersebut menghasilkan persoalan yang sangat menarik. Bagaimana memainkan kasih sayang ketika seseorang tidak boleh mendekat? Jaraklah yang dijadikan sebagai bahasa panggung. Inilah kemungkinan paling kuat dari Cenenggo.
Bayangkan satu wilayah panggung menjadi ruang orang sakit. Wilayah lain menjadi ruang keluarga atau masyarakat. Tidak perlu selalu ada tembok. Tidak perlu selalu ada pagar. Cukup sebuah garis cahaya. Atau jarak tubuh. Atau benda tertentu yang tidak boleh dilewati.
Ketika seorang anak ingin mendekati ibunya tetapi dicegah, jarak beberapa meter dapat terasa lebih menyakitkan daripada dialog panjang. Dengan demikian, konflik tidak hanya disampaikan melalui kata-kata. Tubuh aktor sendiri menjadi alat untuk menunjukkan konflik. Konflik yang sangat manusiawi
Cenenggo tidak hanya berbicara tentang penyakit. Ia berbicara tentang ketakutan. Tentang pengetahuan yang belum tentu lengkap. Tentang aturan komunitas. Tentang keinginan untuk melindungi orang yang dicintai. Dan tentang pertentangan antara keinginan untuk mendekat dengan kebutuhan untuk menjaga jarak.
Situasi seperti ini memberi ruang besar kepada aktor untuk memainkan emosi yang tidak selalu harus diucapkan. Seorang ibu dapat memanggil. Seorang anak ingin maju. Seseorang menahannya. Tidak terjadi apa-apa secara fisik. Tetapi secara dramatik, peristiwa sedang berlangsung.
Tantangan
Bahaya naskah ini adalah potensinya menjadi garapan yang terlalu informatif. Jika seluruh persoalan kemudian dijelaskan melalui dialog atau tokoh yang menerangkan keadaan, kekuatan “jarak” sebagai bahasa panggung akan berkurang. Karena itu, kelompok yang memilih Cenenggo perlu berani mempercayai keheningan, blocking, tatapan, suara, dan ruang.
Naskah ini sangat menarik bagi kelompok yang ingin belajar bahwa konflik teater tidak selalu harus berupa pertengkaran. Kadang-kadang konflik paling kuat justru terjadi ketika dua orang sama-sama ingin mendekat, tetapi tidak boleh melakukannya.
- HANTU AEK karya Gesang Tri Wahyudi
Berbeda dari Cenenggo yang cenderung menempatkan penonton dalam ketegangan psikologis, Hantu Aek memiliki energi yang lebih dekat dengan komedi rakyat. Ada ruang untuk warung, pos ronda, masyarakat, kepercayaan terhadap hal gaib, dan tokoh-tokoh yang mencoba membaca sebuah kejadian melalui pengetahuan yang mereka miliki. Naskah ini menarik karena mempertemukan kepercayaan masyarakat dengan perilaku manusia yang sangat sehari-hari. Ketika yang gaib menjadi bahan permainan
Cerita tentang hantu mudah jatuh menjadi pertunjukan horor yang sederhana: muncul, menakutkan, kemudian hilang. Hantu Aek memiliki kemungkinan yang lebih menarik jika unsur gaib tidak hanya dipakai sebagai alat menakut-nakuti, tetapi menjadi cermin bagaimana masyarakat membangun sebuah kepercayaan.
Siapa yang percaya? Siapa yang tidak percaya? Siapa yang memanfaatkan ketakutan orang lain? Bagaimana sebuah kabar berkembang ketika tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memperkaya pertunjukan.
Kelompok pelajar atau remaja dapat memainkan naskah ini dengan Kekuatan komedi dan energi yang ringan. Namun komedi tetap membutuhkan kontrol. Tokoh tidak boleh sekadar berteriak untuk membuat penonton tertawa. Kelucuan sebaiknya lahir dari situasi, karakter, perbedaan cara berpikir, dan respons terhadap keadaan.
Semakin serius tokoh menghadapi sesuatu yang sebenarnya absurd, semakin besar kemungkinan situasi tersebut menjadi lucu.
Tantangan
Tantangan terberat Hantu Aek adalah dramaturgi. Persoalan yang perlu diperhatikan adalah penyelesaian cerita. Jika seluruh misteri kemudian dijelaskan secara tuntas sebagai sesuatu yang ternyata hanya persoalan biasa, sebagian daya misterinya bisa hilang.
Sutradara dapat mempertimbangkan untuk tetap menyisakan sedikit ruang bagi imajinasi penonton. Dalam teater, tidak semua pertanyaan harus dijawab. Kadang-kadang satu suara dari belakang panggung setelah semua tokoh pergi jauh lebih mengganggu daripada penjelasan panjang tentang apa sebenarnya yang terjadi.
- KAMPUNG YANG HILANG karya Titas Suwanda
Membaca judul Kampung yang Hilang segera menimbulkan pertanyaan, jika rumah, jalan, sungai, dan tanahnya masih ada, apa yang sebenarnya hilang? Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk penting untuk membaca keseluruhan naskah ini.
Imam pulang ke kampung setelah kehilangan pekerjaan di kota. Ia berharap kampung halaman masih memiliki kehidupan yang dahulu ia kenal: gotong royong, keguyuban, dan nilai-nilai yang diwariskan masyarakat. Namun kampung yang ditemuinya telah berubah. Orang-orang menjadi lebih individualistis dan materialistis. Dengan demikian, “hilangnya kampung” dalam naskah ini tidak harus dibaca sebagai hilangnya wilayah secara geografis. Tetapi, yang hilang adalah nilai yang membuat sebuah tempat layak disebut kampung.
Kekuatan naskah ini terletak pada konflik gagasan. Konflik yang terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Imam membawa ingatan tentang kampung masa lalu. Orang-orang yang tinggal di sana menghadapi kehidupan masa kini.
Pertemuan dua pandangan tersebut membuka pertanyaan tentang perubahan sosial. Apakah perubahan selalu berarti kehilangan? Apakah tradisi harus dipertahankan dalam bentuk yang sama? Apakah gotong royong masih mungkin ketika kebutuhan ekonomi setiap orang semakin besar? Dan apakah seseorang yang lama meninggalkan kampung masih berhak menentukan bagaimana kampung itu harus hidup?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat naskah memiliki ruang diskusi yang luas bagi pemain teater remaja.
Kekuatan lain dari naskah ini adalah hadirnya tradisi Mandi Kayik sebagai bagian dari persoalan cerita. Namun, kekuatan ini bisa menjadi kelemahan yang fatal. Ritual tidak seharusnya hanya menjadi dekorasi. Ia dapat menjadi titik ketika nilai lama dan cara pandang baru bertemu.
Musik, bunyi air, suara masyarakat, nyanyian atau tradisi lisan, dan gerak kelompok dapat digunakan untuk membuat ritual menjadi peristiwa teatrikal, bukan sekadar adegan yang dijelaskan melalui dialog.
Tantangan
Tantangan utama jika memilih Kampung Yang Hilang adalah tantangan bagi penyutradaraan. Sebab, kelemahan potensial naskah ini justru terdapat pada kekuatan dialognya. Jika dimainkan secara realis—orang duduk, berbicara, lalu menjelaskan persoalan—pertunjukan berpotensi menjadi sangat verbal. Karena itu, sutradara perlu mencari bentuk visual untuk gagasan “kampung yang hilang”.
Misalnya, ruang yang pada awalnya terasa penuh oleh suara masyarakat perlahan menjadi sunyi. Atau benda-benda yang dahulu digunakan bersama mulai menjadi milik pribadi. Atau aktor-aktor yang pada awal pertunjukan selalu bergerak sebagai kelompok perlahan terpisah menjadi individu-individu. Dengan pendekatan seperti itu, gagasan tidak hanya dibicarakan, tetapi diperlihatkan.
Enam Naskah, Enam Kemungkinan Panggung
Enam naskah yang dikupas pada bagian pertama dari kumpulan naskah pilihan FTR 2026 ini memperlihatkan bahwa cerita lokal dapat membawa kelompok teater menuju bentuk pertunjukan yang sangat berbeda. GGRRRHH…AAUUUMM……GGRRRHH membuka kemungkinan teater tubuh, suara, dan atmosfer. Bukit Perak mempertemukan komedi, tradisi, pantangan, dan dunia gaib. Celebau menawarkan persoalan manusia, tanah, ekonomi, ritual, dan lingkungan. Cenenggo memperlihatkan bagaimana jarak dapat menjadi bahasa konflik. Hantu Aek membuka ruang komedi rakyat yang bermain dengan kepercayaan dan ketakutan. Sementara Kampung yang Hilang mengajak pemain mempertanyakan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, calon peserta tidak cukup bertanya, Cerita mana yang saya suka? Pertanyaan berikutnya adalah Pertunjukan seperti apa yang bisa dibangun dari cerita ini? Sebab naskah teater baru benar-benar hidup ketika bertemu dengan tubuh aktor, ruang, cahaya, suara, musik, properti, dan imajinasi sebuah kelompok.
Pada akhirnya, pilihan naskah juga merupakan pilihan tentang jenis perjalanan artistik yang bersedia dijalani sebuah kelompok.
Bersambung ke Bagian II: Pusako, Keris, dan Ingatan yang Diperebutkan.
