Puisi-puisi Meilan Meilani
Retak berpeluk diam Protes tak lagi punya suara,Ia mengendap di rongga dada,Menjadi debu yang kutelanSetiap kau ulangi luka dengan gaya yang nyaris puisiIndah, tapi perih. Ujung Jalan Rasanya sudah di ujung jalannamun kenapa tak kunjung sampai?langkah terasa berat, beban pun diamseakan bumi menahan kaki yang ingin damaiSendok dan Sunyi Aneh, rasanya hambarpadahal sudah ku taburkan sedikit garam yang kupunyamungkin […]
