KEHILANGAN MAKNA
Agustian
Ketika Suatu pagi, Natin terbangun dari tidur. Ia mendapati dirinya tidur di kamar yang gelap dan sunyi,telentang di atas ranjang dengan perasaan hampa dan kebingungan. Bangun dari ranjang dengan mata yang sembap sehabis menangis tadi malam untuk beribadah kepada Tuhannya.
“Apakah rasa sakit ini memiliki arti, Tuhan?” tanya Natin.
Entah berapa kali Nanti telah berdoa kepada Tuhan yang sama dengan doa yang sama, tetapi tidak mendapat jawaban sama sekali.
Natin adalah seseorang yang sangat religius, ia sangat tertutup dengan orang banyak dan jarang bersosial karena trauma sosial yang dialaminya dulu. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Sebab ia sering dirundung karena fisik yang lemah dan penampilannya yang culun.
Sesudah beribadah Natin bersiap untuk ke sekolah. Ia memakai seragam sekolahnya dengan rasa malas, karena di sekolah ia tidak memiliki teman.
Sebelum Natin berangkat ke sekolah, ia menyempatkan dirinya untuk sarapan bersama keluarganya. Di meja makan hanya ibu dan kakaknya. Ayah Natin tidak sarapan karena menderita sakit atrofi otot pada kakinya selama bertahun tahun yang membuat sulit untuk berjalan apalagi untuk duduk diam dalam waktu yang lama. Yang dilakukan ayahnya setiap hari hanya berbaring di ranjang sambil memijat kakinya. Badan ayah Natin juga terlihat kurus karena sulit untuknya makan sambil duduk.
Di meja makan, Natin menerima makian dari ibu dan kakaknya karena ia tidak mampu memenuhi harapan keluarganya. Dengan nada suara yang tinggi, ibunya setiap hari terus membanding-bandingkan Natin dengan kakaknya yang sudah menjadi guru di sekolah dasar, dan kakaknya memukul Natin karena dianggap beban keluarga. Dalam benak Natin, ia bertanya kenapa hidup nya harus seperti ini? Ia pun berangkat ke sekolah dengan wajah yang murung.
Sesampainya di sekolah, Natin Berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan memasang muka ceria kepada teman-temannya. Ia menyapa teman-temannya dengan wajah yang ceria. Namun, sapaan hangat tersebut tidak disambut baik oleh temannya.
“Hey, boti sudah sampai. Kamu pake makeup?” kata teman kelas Nantin.
“Eh, iya, aku udah ganti makeup sekarang, cantik gak?” jawab Natin.
Natin berusaha untuk tidak tersinggung dan malah ikut mengejek dirinya sendiri. Padahal dalam hatinya sudah merasa lelah karena ejekan itu.
Saat Natin menuju ke kelas, ia tanpa sengaja melihat teman kelas sebelahnya Perfeto yang selalu dikerumuni para gadis. Natin bertanya dalam benaknya apakah bisa seperti dia? Tampan, lahir di keluarga kaya raya, dan disukai banyak gadis.
“Apakah Tuhan akan membalasnya di surga untukku?” tanya Nanti memelas sembari masuk ke kelas.
Sesampainya di kelas, Natin duduk sendiri tanpa berbicara karena temannya enggan untuk mengajaknya berbicara. Disela-sela menunggu pelajaran dimulai, Natin berkhayal semua yang dialaminya akan mendapat balasan dari Tuhan, dan ia akan hidup senang di dalam surga. Natin percaya setelah penderitaan ini pasti ada balasannya. Di tengah khayalannya, Natin melihat seorang gadis yang masuk ke kelas, seorang gadis yang ditaksir selama dua tahun di SMA. Enjel namanya.
Saat pelajaran dimulai, Natin terus memperhatikan Enjel. Gadis itu terlihat begitu cantik dan baik. Natin sangat menyukainya, tetapi Natin juga sadar akan kekurangannya.
Selama Natin satu kelas dengan Enjel, Natin tidak berani mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Namun, entah kenapa pada hari ini, ia ingin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam. Ia pun mencoba bercermin melalui gawainya. mencoba memperbaiki penampilan dirinya agar bisa menarik hati sang gadis.
Saat bel istirahat berbunyi, Natin pun menghampiri Enjel untuk mengungkapkan perasaannya. Ia mengajak gadis itu untuk berbicara sebentar. Gadis itu menerima ajakan tersebut, meski mimik wajahnya menunjukan perasaan tidak suka.
Di depan kelas, mata Natin dan Enjel saling berhadapan, jantung Natin berdebar. Dengan sedikit basa-basi, akhirnya Natin mengungkapkan perasaannya.
“Maaf yah, kita temenan aja. Bukannya gak mau, mungkin ada yang lebih daripada aku,” kata Enjel.
Natin tau ini penolakan yang berbalut dengan kata-kata yang halus. Perasaannya campur aduk antara kecewa dan malu. Ia merasa seluruh badannya kaku karena saking kecewa dan malu. Natin menyadari alasan Enjel menolaknya adalah karena Natin tidak cukup tampan baginya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara laki-laki yang memanggil Enjel. Itu adalah suara Perfeto yang ingin mengajak Enjel makan di kantin. Enjel pun pergi tanpa memperdulikan Natin. Natin melihat mereka bergandengan tangan. Ia sadar kalau mereka sudah berpacaran dari dulu. Itu berarti, selama ini ia menyukai seorang gadis yang sudah memiliki pasangan, membuatnya hati terasa remuk.
Setelah kejadian itu, bel masuk pun dibunyikan. Natin duduk di bangku dengan hati yang merasa sakit, tatapan ia kosong, matanya berkaca kaca, dan perasaannya tidak bisa lagi jelaskan dengan kata kata. Ketika Natin melihat gadis itu, perasaannya tak sama lagi, seolah-olah hatinya merasa hampa. Tapi Natin masih berharap pada Tuhannya setelah rasa sakit ini, pasti ada balasan yang lebih indah dari Tuhan.
Di sela-sela pembelajaran, guru masuk untuk memberi pengumuman tes untuk mencari calon pasukan pengibar di hari kemerdekaan. Natin yang mendengar hal tersebut sangat antusias karena ini adalah impiannya dari kelas sepuluh. Dalam benaknya, mungkin ini adalah jalan yang disiapkan Tuhan untuknya.
Sesampainya di rumah, Natin pun berolahraga untuk mengikuti tes calon pasukan pengibar. Meski tak didukung orang tuanya, Natin tak menghiraukan dan yakin Tuhan pasti menolongnya kali ini. Setiap hari Natin lari pagi, pushup, sit up, dan backup agar bisa lulus tes.
Sampailah pada hari tes calon pasukan pengibar dimulai. Pagi itu, Natin sangat bersemangat untuk mengikuti tes, dan tanpa sengaja bertemu dengan Perfeto. Sedikit basa-basi di antara mereka, terlihat Perfeto sedikit meremehkan Natin dalam percakapan itu, dan akhirnya tes pun dimulai.
Saat tes fisik. Natin jauh lebih unggul daripada Perfeto, karena fisik Natin yangs udah dilatih jauh jauh hari. Natin agak sedikit percaya diri karena yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong dan membuatnya merasa menang untuk kali ini. Setelah tes selesai, pengumuman tes akan diumumkan minggudepan.
Natin pun bedoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhannya agar lolos tes. Semua harapan sudah digantungkan kepada Tuhannya. Ia percaya rasa sakit akan sembuh. Setelah penderitaan di balas kebahagiaan, setelah badai pasti cerah, pasti ada terang di ujung terowongan.
Seminggu kemudian, hasil tes pun diumumkan. Dengan harapan yang tinggi pada Tuhannya, Natin pun mendengarkan hasil pengumuman. Terdengar nama Perfeto lolos sebagai calon pasukan pengibar, dalam hati Natin, pasti Tuhan menolongnya kali ini.
Satu persatu nama disebutkan, tapi tak terdengar nama Natin. Ia mulai sedikit panik. Pada akhirnya, namanya tidak disebutkan.
Natin sadar bahwa selama ini Tuhan tidak pernah menolongnya. Di mana pertolongan yang Tuhan janjikan untuknya? Kenapa Tuhan tidak pernahmembalas doanya? Apakah surga itu ada untuknya?
Natin pun pulang dengan perasaan yang kecewa begitu dalam, seluruh tubuhnya lemas, tidak ada harapan. Di tepi jalan, Natin bertemu orang yang meminta sedekah demi mencari makan. Ia melihat gembel yang tidak memiliki rumah, seorang ibu yang rela mencuri untuk memberi makan anaknya. Natin pun sadar bahwa yang menderita tidak hanya ia saja, tetapi di belahan dunia lain masih banyak yang lebih menderita, masih banyak yang merasa sakit karena takdir Tuhan.
Apakah Tuhan sengaja menakdirkan seseorang untuk mederita sampai mati? Apakah kehidupan setelah mati itu ada?
Natin pulang ke rumah di hari yang sore. Tatapannya kosong tanpa makna, seolah-olah harapannya pada hari itu hilang seketika. Natin pun makan malam seperti biasa sambil mendengarkan makian ibu dan kakaknya. Setelah makan, Natin menyempatkan diri untuk menjenguk ayahnya sebelum tidur, kondisi ayahnya sangat menyedihkan. Badannya semakin kurus dan terkulai lemas menanggung rasa sakit yang ia derita.
Disaat Natin tidur di kamar, pikirannya sudah seperti peperangan karena ingin mencari jawaban atas arti penderitaan manusia did unia.
“Apakah takdirku selalu menderita? Apa jangan jangan Tuhan tidak ada? Apa Tuhan peduli dengan kita? Siapa yang bisa menjamin Tuhan itu ada? Siapa yang bisa menjamin setelah mati ada kehidupan?” tanya Natin.
Natin pun keluar rumah. Ia mengambil tali dan menggantungkannya ke pohon, berniat untuk bunuh diri sendiri. Dalam pikiran Natin yang sangat putus asa, yang ada hanyalah pertanyaan tentang makna penderitaan manusia di dunia.
“Apakah aku seperti ini karena takdir Tuhan? Apakah Tuhan sudah tahu akhir hidupku akan seperti ini?” tanya Natin.
Akhirnya, Natin menggantung dirinya sendiri. Dengan suara yang tercekik, pandangannya perlahan gelap, dan pada akhirnya mati. Hidup tanpa alasan, mati tanpa jawaban.
TAMAT
Tentang Penulis: Agustian adalah murid SMAN 7 Kerinci.
