Menjelajah Makna Pakaian dan Identitas Melalui Pertunjukan Kontemporer ‘PAN~// CATWALK’
Judul: “PAN~// CATWALK”
Kelompok Seni: Zwermers, Tilburg, Belanda
Pembuka: Ukar Dance
Penyelenggara: Muaro Art Kreatif dan Erasmus Huis
Genre: Teater, seni gerak, dan fashion performance kontemporer
Tema: Pakaian, identitas, gender, dan perubahan sosial Waktu: Selasa, 15 September 2026, pukul 16.00 WIB
Tempat: Lapangan/halaman Taman Budaya Jambi
Pertunjukan “PAN~// CATWALK” merupakan pertunjukan seni yang memiliki konsep berbeda dari peragaan busana pada umumnya. Pertunjukan ini tidak hanya menampilkan orang yang berjalan menggunakan pakaian, tetapi juga menggabungkan gerakan tubuh, ekspresi, pergantian pakaian, dan penggunaan ruang sebagai bagian dari pertunjukan. Hal tersebut membuat penampilan terasa seperti perpaduan antara peragaan busana dan pertunjukan teater.
Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Taman Budaya Jambi dengan menggunakan area terbuka sebagai tempat pertunjukan. Pemilihan tempat tersebut membuat suasana acara terasa lebih santai dan dekat dengan penonton. Penonton tidak hanya duduk diam melihat panggung, tetapi dapat memperhatikan pergerakan para penampil dari berbagai arah. Kondisi tersebut membuat pertunjukan terasa lebih hidup karena jarak antara penampil dan penonton tidak terlalu jauh.
Sebelum pertunjukan utama dimulai, acara dibuka oleh Ukar Dance. Penampilan ini memberikan unsur kesenian lokal dalam kegiatan yang menghadirkan kelompok seni dari Belanda. Setelah itu, pertunjukan dari Zwermers mulai ditampilkan dengan konsep catwalk yang tidak biasa. Para penampil menggunakan gerakan dan pakaian sebagai cara untuk menyampaikan sesuatu kepada penonton.
Hal yang paling terlihat dalam pertunjukan adalah keberagaman pakaian yang digunakan. Pakaian yang ditampilkan tidak hanya berupa busana yang terlihat mewah atau menarik, tetapi juga pakaian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada pakaian yang terlihat sederhana, pakaian dengan bentuk yang berbeda, hingga pakaian yang memiliki tampilan cukup unik. Perbedaan tersebut membuat penonton dapat melihat bahwa pakaian tidak selalu harus digunakan untuk menunjukkan keindahan.
Dalam pertunjukan ini, pakaian juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana seseorang dapat menunjukkan dirinya. Setiap orang mempunyai cara sendiri dalam memilih pakaian sesuai dengan kenyamanan, kegiatan, tempat, dan lingkungan. Misalnya, pakaian yang digunakan ketika berada di rumah tentu dapat berbeda dengan pakaian saat menghadiri acara resmi. Perubahan tersebut merupakan hal yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Pergantian pakaian yang dilakukan di dalam pertunjukan menjadi salah satu bagian yang menarik. Para penampil dapat mengubah pakaian mereka di hadapan penonton dan kemudian kembali melakukan gerakan dengan pakaian yang berbeda. Perubahan tersebut dapat menggambarkan bahwa manusia juga sering mengalami perubahan dalam kehidupan. Seseorang dapat memiliki penampilan yang berbeda ketika berada dalam keadaan atau lingkungan yang berbeda.
Selain pakaian, gerakan para penampil juga menjadi bagian penting. Mereka tidak hanya berjalan lurus seperti model di catwalk biasa, tetapi bergerak dengan cara yang lebih bebas. Ada gerakan yang dilakukan secara perlahan, ada yang lebih aktif, dan ada pula gerakan yang dilakukan sambil berpindah tempat. Gerakan tersebut membuat penonton lebih memperhatikan hubungan antara tubuh, pakaian, dan ruang yang digunakan.
Para penampil juga memanfaatkan area di sekitar panggung sehingga pertunjukan tidak terasa monoton. Mereka dapat bergerak mendekati bagian tertentu dari penonton dan menggunakan ruang yang tersedia sebagai bagian dari pertunjukan. Hal ini membuat catwalk tidak hanya menjadi tempat untuk berjalan, tetapi berubah menjadi ruang untuk berekspresi dan berinteraksi.
Interaksi tersebut juga membuat penonton merasa lebih terlibat. Penonton dapat melihat pakaian dari jarak yang lebih dekat dan mengikuti perubahan yang terjadi selama pertunjukan. Suasana seperti ini berbeda dengan peragaan busana biasa yang biasanya membuat penonton hanya melihat model berjalan dari satu arah.
Selain menyaksikan pertunjukan, terdapat pula kegiatan mencoba pakaian yang dibawa oleh rombongan dari Belanda. Beberapa pakaian tersebut dapat digunakan atau dicoba secara langsung sehingga penonton mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan karya yang ditampilkan. Bagian ini menjadi menarik karena penonton tidak hanya menjadi orang yang melihat, tetapi juga dapat merasakan secara langsung salah satu unsur dari pertunjukan.
Kehadiran kelompok seni dari Belanda juga memberikan pengalaman baru bagi masyarakat Jambi. Penonton dapat melihat secara langsung bentuk seni pertunjukan kontemporer yang dibawakan oleh seniman dari negara lain. Di sisi lain, adanya Ukar Dance sebagai pembuka membuat kegiatan ini tetap memiliki hubungan dengan kesenian lokal Jambi. Pertemuan kedua bentuk kesenian tersebut membuat acara menjadi lebih beragam.
Pertunjukan ini juga memperlihatkan adanya hubungan antara pakaian dan identitas seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang dikenal atau dinilai melalui penampilannya. Cara berpakaian sering kali membuat orang lain memiliki kesan tertentu terhadap dirinya. Namun, melalui pertunjukan ini dapat dilihat bahwa penampilan luar sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan seseorang secara keseluruhan.
Tema gender juga dapat dilihat melalui keberagaman pakaian yang digunakan. Pakaian dalam masyarakat sering kali memiliki aturan tidak tertulis mengenai apa yang dianggap cocok untuk laki-laki atau perempuan. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa cara berpakaian dapat lebih beragam dan dapat menjadi salah satu bentuk ekspresi diri. Hal tersebut membuat penonton dapat melihat bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk menunjukkan dirinya melalui penampilan.
Selain itu, pertunjukan ini berkaitan dengan perubahan sosial. Cara manusia berpakaian selalu mengalami perkembangan sesuai dengan zaman. Model pakaian yang digunakan masyarakat pada masa lalu tentu berbeda dengan pakaian yang digunakan sekarang. Perubahan tersebut dapat terjadi karena perkembangan budaya, teknologi, lingkungan pergaulan, maupun pengaruh dari berbagai daerah dan negara.
Menurut saya, pertunjukan ini juga memberikan pelajaran bahwa kita sebaiknya tidak langsung menilai seseorang hanya dari pakaian yang dikenakannya. Pakaian memang dapat menjadi bagian dari identitas, tetapi setiap orang memiliki cerita, kepribadian, dan latar belakang yang tidak dapat diketahui hanya dari penampilan. Pesan tersebut disampaikan melalui berbagai perubahan pakaian dan gerakan yang dilakukan para penampil.
Hal lain yang menarik adalah cara pertunjukan ini mengubah pemahaman tentang catwalk. Catwalk biasanya identik dengan model yang berjalan di atas panggung untuk memperlihatkan busana. Namun, dalam “PAN~// CATWALK”, catwalk dibuat menjadi lebih bebas dan memiliki unsur pertunjukan. Para penampil tidak hanya memperlihatkan pakaian, tetapi juga melakukan berbagai aksi sehingga pakaian menjadi bagian dari cerita dan penyampaian pesan.
Penggunaan lapangan terbuka juga memberikan pengalaman tersendiri. Cahaya sore, suasana sekitar Taman Budaya, dan keadaan lingkungan membuat pertunjukan terasa lebih alami. Penonton dapat menikmati pertunjukan tanpa suasana gedung yang terlalu resmi. Namun, karena dilaksanakan di luar ruangan, kondisi cuaca dan keadaan lingkungan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan agar acara dapat berjalan dengan nyaman.
Secara keseluruhan, “PAN~// CATWALK” memberikan pengalaman yang berbeda dalam menikmati seni pertunjukan. Karya ini menunjukkan bahwa pakaian dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan gagasan mengenai kehidupan manusia, identitas, dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Perpaduan antara pakaian, gerakan, teater, dan interaksi membuat pertunjukan menjadi lebih menarik untuk diamati.
Kegiatan ini juga memberikan wawasan bahwa seni tidak selalu harus disajikan dalam bentuk yang sudah umum dikenal. Seni dapat dikembangkan dan digabungkan dengan berbagai unsur lain sehingga menghasilkan bentuk pertunjukan yang baru. Melalui pertunjukan ini, penonton tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga dapat memahami bahwa sesuatu yang terlihat sederhana seperti pakaian ternyata dapat memiliki hubungan dengan identitas, budaya, lingkungan, dan kehidupan sosial seseorang.
Alyadina Mahira lahir di Jambi pada 3 Mei 2009 dan menetap di sana bersama keluarganya. Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, ia memiliki hobi membuat kue serta mencoba berbagai macam riasan wajah. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di kelas XII F3 SMA Negeri 2 Kota Jambi. Setelah lulus, ia berencana melanjutkan studi ke Universitas Jambi atau Poltekkes dengan mengambil jurusan Ahli Gizi karena ketarikannya pada bidang makanan dan kesehatan. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia terus belajar dengan giat dan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

