PLAGIAT
PLAGIAT
4-7 Maret 2020
Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi
*SECUIL KONSEP PENTAS PLAGIAT*
Anda Plagiat ! (?)”. Tahun 2016, kata Plagiat ini, membuat saya gemetar. Lalu saya mencoba memaknai dengan sesungguhnya kata plagiat ini, berhari-hari. Jiwa bergetar mengadili diri dan pemikiran saya sendiri. Saya terhenyak. Ternyata benar, saya sesungguhnya tergolong orang yang masuk dihampir ragam plagiat yang diterangkan Sastroasomoro (2007). Akhirnya saya lega menemukan makna plagiat. Sungguh saya adalah plagiator
Betapa tidak, setiap hari bercermin pada apa yang saya lakukan di masa lalu, masa kini, dan masa mendatang – sejak masa bayi, hingga saat ini, sejak belum bisa berjalan hingga mampu berlari, sejak belum bisa berbicara sampai doyan mengkritisi, semua gerak, tingkah laku, tindak tanduk, perbuatan, semua adalah peniruan, penciptakan atas rekaman peristiwa sehari-hari yang sudah dilakukan orang lain, dan saya, menelannya baik-baik – baik yang saya terima secara negatif maupun positif, tanpa bisa memisahkannya.
Saya sudah masuk pada wilayah plagiarisme mosaik : yakni menyalin dengan menyisipkan kata, frase atau kalimat dari orang lain, lalu menyambungkannya secara random dalam setiap nafas kehidupan. Setiap hari saya juga melakukan Autoplagiarism atau Self-Plagiarism (Vide Infra), yaitu mengenakan kegiatan sehari-hari atas memakai karya sendiri secara identik, tanpa pernah menerangkan atau melampirkan sumber karya itu asli atau milik orang lain.
Di rumah, usai sholat subuh, saya ke warung untuk membeli kebutuhan perut sehari-hari, lalu menyempurnakan kegiatan subuh menjadi plagiator. Betapa tidak, sudah beragam jenis masakan (ala Indonesia, tentunya) saya ciplak mentah-mentah di atas kuali dan panci, tanpa pernah saya menyebutkan siapa pencipta pertama masakan yang saya tiru. Mulai masakan tempoyak, capcai, gulai, semur, kari ayam, asam padeh, opor, lodeh, tumis kangkung, bening bayam, sayur asam, sambal lado ikan ayam, nasi uduk, dll. Semua saya tiru dengan senang hati, hingga mendekati kesempurnaan, baik rasa dan warnanya.
Saya Plagiarisme yang melakukan tindakan menyerahkan (Submitting) atau menyajikan (presenting) ide orang lain tanpa menyebut sumbernya. Saya juga masuk pada jenis plagiarisme berdasarkan aspek mencuri. Plagiarisme ide : Mengambil ide yang sudah ada tanpa menyebut sumber dengan jelas. Plagiarisme isi, mengambil cara orang lain. Plagiarisme total.
Plagiarisme total, juga saya lakukan saat silaturahmi di dalam kelas atau orang yang mau diajak berdiskusi. Secuil buku teori saya baca. Tiba saatnya, dihadapan penampung ilmu, kata-kata dalam buku teori yang saya baca, saya ulang. Apakah saya orang pintar. Ternyata tidak, saya hanya mampu meniru, menciplak kalimat-kalimat yang tertera dari buku teori, yang sudah baca. Tak ada teori yang baru yang saya temukan, semua buku semua mengemukan formulasi yang sama dari penemu teori pertama. Yang beda, hanya redaksional dam contoh-contoh yang diletakkan dengan manis untuk memperkuat teori.
Bagi penampung ilmu, mereka dengan ikhlas dan dengan sempurna membolak-balikkan kata. Plagiarisme kata demi kata (Word for word plagiarizing) : mengambil sebagian kecil kalimat dalam satu paragraf, tanpa digubah menurut aturan penulisan, dengan tidak menyebut sumber.
Kasus yang sederhana dari sisi perilaku adalah koruptor, maling, pencuri, baik yang berada diluar maupun di dalam gedung, siang atau malam, semua kasus sama, yakni, meniru, mencontoh, menciplak perbuatan mencuri yang sudah dilakukan perbuatan dari orang sebelumnnya. Peniruan-peniruan saat ini, sudah digemari, tanpa bisa dielakkan, yaah….. seperti bumbu penyedap.
Saya adalah peniru ulung. Saya pemikiran dan temuan-temuan penemu. Sudah banyak hidangan pemikiran, keterampilan dari berbagai bidang, saya ciplak. Dan kini, saya tidak lagi peduli apakah masuk sudah menjadu, pembajak ringan, plagiat sedang maupun berat atau plagiarisme total ?
Dari secuil persoalan sederhana ini, pentas teater PLAGIAT ini saya hidangkan. Namun, saya harap, anda jangan mencari katarsis sebagaimana yang dituangkan dalam konsep drama dramatic ala Stanilavsky. Soalnya, dalam pertunjukan ini, saya memakai metode teater epic sebagaimana yang dituangkan Bertholt Brecht, dan penonton (harus) sadar tentang kondisi kehidupan yang ada disekilingnya. Dalam teater epik empati atau keterlibatan emosional penonton terhadap pertunjuk, sangat dibutuhkan. Kami harus menciptakan V-Effect atau alienasi penonton (seolah-olah) diganggu kenikmatannya dalam menyaksikan tuturan peristiwa di atas pentas Plagiat yang diambil dari satu peristiwa saya. Ini Plagiator.
Percakapan demi percakapan tubuh antar pemain baik tokoh perempuan dan lelaki saling menunjang tubuh-tubuh yang melahirkan dan mencari tubuh-tubuh ideal, tubuh-tubuh yang saling berkomunkasi, tubuh-tubuh yang memberikan impresi, tubuh-tubuh yang merespon ruang, tubuh-tubuh yang melahirkan gagasan.
Lelaki dan perempuan memebentuk tubuh-tubuh pemerataan pada pembaringan dan kesejajaran yang melahitkan satuan tubuh. Kalimat yang terlahir adalah rantaian jenis yang dilahirkan dari sastra atau bahasa. Tubuh-tubuh membentuk tubuh melata. Tubuh peniruan dari kata-kata yang terimajinasi. Tubuh-tubuh tanpa tema.
Tubuh-tubuh yang ingin berkenalan dengan diri sendiri. Tubuh-tubuh yang ingin bertegur sapa dengan orang lain. Tubuh-tubuh yang ingin memaknai lingkungan. Tubuh-tubuh yang ingin memaknai lingkungan. Tubuh-tubuh yang mencerminkan bahwa hidup tak semua dimengerti.
Moga berkah
Salam
